Barbie Girl (cerpen/cerita pendek by me)

Tuhan itu Maha Adil. Semua orang di dunia ini pasti setuju dengan hal itu. Yah, tentu saja kecuali orang-orang Atheis yang tidak percaya Tuhan. Akupun setuju, Tuhan memang Maha adil. Hanya saja menurutku keadilan Tuhan tidak akan kita dapatkan di dunia. Kita baru akan mendapatkan keadilan Tuhan yang seadil-adilnya di kehidupan akhirat.

Tak percaya? Aku punya bukti bagus tentang ketidakadilan Tuhan. Contohnya temanku yang satu ini, yang baru saja turun dari mobilnya.

“Pagi Neil.” Sapaku ketika jarak diantara kami sudah cukup dekat. Sementara Neil hanya membalas sapaanku dengan anggukan.

Oke, kuralat kata-kataku, bukan teman! Jelas Neil terlalu jutek dan terlalu tidak akrab untuk menjadi temanku. Kami hanya rekan sesama anggota OSIS sekolah.

Siapa yang tidak kenal Neil, murid paling pintar di sekolah, tajir, dan yang paling penting CAKEP! Mata cewek mana yang tahan untuk tidak melirik kearahnya apabilacewek itu berada di satu ruangan yang sama dengan Neil. Pergi kesekolah dengan mobil BMW-nya yang menunjukkan kemampuan finansialnya. Otaknya tak terkalahkan bahkan sampai ke tingkat olimpiade. Huh, bagaimana bias TUhan memberikan semua kelebihan pada Neil sedangkan diluar sana masih banyak cowok-cowok yang tidak pintar, tidak kaya, dan jelek!

Oops, bukan maksudku untuk terlalu kejam .

Kembali ke lapangan parker sekolah yang masih penuh sesak dengan murid-murid yang akan memarkir mobilnya. Sebuah mobil Honda jazz PINK yang mencolok sedang melaju kearah mobil Neil. Bukan melaju sepertinya, mungkin mobil itu bermaksud parkir di tempat kosong yang ada di sebelah mobil Neil.

Tapi…………………………………….. CRASH!

DIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNN, alarm mobil Neil meraung-raung tiba-tiba. Mobil Honda jazz pink itu tak sengaja menabrak sedikit bagian belakang mobil Neil.

Neil yang marah kemudian mengetuk kaca jendela tempat sopir Honda Jazz itu duduk. Dan sopir itu keluar dari sana. Cewek imut, lugu, dan yang paling penting CANTIK!

Oh, tentu saja itu sahabatku Chery, si Barbie!

Chery berdiri didepan Neil dengan wajah seperti hampir menangis, “Maaaaaaaaffff, Chery nggak sengaja.”

Terlihat sekali kalau wajah Neil menahan amarah dan dadanya naik turun dengan cepat, “Kalo lo nggak bias nyetir, NGGAK USAH NYETIR!” katanya. Singkat, padat, namun Jelas.

“Hiks, maaff…” air mata sudah jatuh di pipi Chery. “Chery nggak sengaja. Chery mau kok ganti rugi. Hiks hiks.. udah ya, Neil jangan marah-marah lagi….. HUweeeeee hiks hiks.”

“Gue nggak semiskin itu buat minta ganti rugi sama lo!” Setelah itu Neil pergi dari sana meninggalkan Chery yang masih menangis.

Neil yang aneh. Kalau nggak mau minta ganti rugi, ngapain pake marah-marah kayak gitu ke si ‘barbie girl’ ini. Chery kan gampang banget nangis karena dasarnya emang dia lugu banget. Kalau ngomong nggak pernah pake aku-kamu apalagi gue-elo, sebagai gantinya dia menyebut namanya sendiri dan nama orang yang dia ajak bicara. Dengan wajahnya yang cantik dan imut, tinggi semampai, rambut panjang, lurus, dan bewarna kecoklatan, tak lupa dengan semua aksesoris dan barang-barang ‘imut’ yang dipakainya, orang-orang memanggil Chery dengan panggilan ‘BARBIE’. Jelas tipe cewek yang rela dikorbankan ke singa lapar buat nyelamatin orang sekampung.

“Reaaaa. Huwe hiks hiks.” Chery langsung bersorak begitu melihatku yang berada tak jauh dari TKP.

“Barbie, udah donk Barbie, cup cup cup. Sabar sabar sabar.”

“Tapi…tapi… Neil jahaaaaattt.”

Huft, mulai lagi deh tangisan manja Chery. Aku jadi merasa seperti Babysitter yang sedang berjuang mendiamkan anak asuhnya. Argh, mana udah mau bel masuk lagi. Jadi terpaksalah aku berjalan menuju kelas sambil menenangkan Chery yang dari tadi masih sesegukan. Hingga akhirnya tibalah di kelas Chery, kelas XI IPS 2.

Untuk kasus Chery, kuakui kalau Tuhan memang benar-benar adil, dan Chery adalah ‘korban’ keadilan Tuhan.

Chery memang cantik, kaya, baik, ramah, dan Barbie girl, tapi otaknya sungguh berbanding terbalik dengan wajahnya. Tuhan memberikan kelebihan wajah padanya tapi tidak dengan otaknya. Kasarnya Chery termasuk anak dengan ranking 10 terbawah di SMA Yera Derva ini.

Sedangkan Neil? Jangan ditanya, sudah pasti dia berkumpul dengan murid-murid pintar di sekolah ini yang ada di kelas XI IPA 1. Murid-murid yang tempat nongkrongnya perpustakaan dan dijamin nggak bakal mau bolos meskipun di pelajaran sejarah.

Intermezzo dikit, gue BENCI sejarah.

“Rea, janji ya nanti pas istirahat dateng ke kelas Chery. Chery nggak mau sendirian..”

Mungkinkah Chery bakal sendirian waktu jam istirahat? Aku rasa tidak. Cowok-cowok satu sekolahan pasti nggak keberatan buat nemenin Chery di jam istirahat. Lagipula dia memang NGGAK PERNAH bener-bener sendirian. Cowok-cowok itu MEMANG selalu mendekat pada Chery. Sepertinya Chery memang punya magnet khusus untuk menarik cowok-cowok.

Ralat, tidak semua cowok! Kecuali Neil tentu saja. Tidak juga dengan Theo, pacarku J awas saja kalau Theo berani mendekati Chery, kucincang habis dia!

“Oke.” Jawabku singkat.
TTEEEEETTTT, bel sekolah yang memekakkan telinga berbunyi tanda aku harus menuju kelasku tercinta (lebay) kelas XI IPA 2. Oh tidaaaak, jam pertama ada pelajaran sejarah!

AAAARRRRGGGGHHHH!!!!!!!!!

********

“Siang barbie..” seru koor cowok-cowok yang selalu menyapa Chery setiap kali dia lewat. yah, memang beginilah setiap hari.

Chery-pun dengan ramah selalu membalas sapaan mereka tak lupa dengan senyum paling imutnya, “Siang semua!”

Aura yang dipancarkan Chery memang tidak biasa, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Si pemikat! Entah mengapa aku merasa demikian. Kalau aku iri padanya mungkin aku mengira dia menggunakan pelet.

Awalnya aku sempat khawatir kalau Chery akan menjadi musuh abadi semua cewek di sekolah ini (kecuali aku tentu saja). Tapi nyatanya tidak, cewek-cewek disini tidak memusuhi Chery. Berkat keluguan dan kebaikannya rasanya terlalu jahat kalau mau membenci Chery.

Lagipula mengingat otaknya yang berbanding terbalik dengan wajahnya itu, kurasa cewek-cewekpun tidak terlalu membenci Chery. Karena dia punya kekurangan.

Ya ampun, kejam sekali kata-kataku. Bukankah semua orang punya kekurangan. Hhi..

Aku tidak mengenal Chery dari kecil. Alu mengenalnya saat hari pertama MOS. Pada hari aku mengenalnya, Chery memang sudah menunjukkan aura ke-barbie-annya.

Saat itu Chery sedang dikerjai oleh senior-senior cowok. Tau sendiri kan kalau sasaran senior itu adalah murid-murid yang ‘mencolok’. Dan Chery MEMANG terlalu mencolok. Seperti kataku barusan, PEMIKAT! Saat Chery sedang dimarahi, Chery terisak, menunduk, dan menggumamkan maaf berkali-kali. Eh senior-senior yang tadinya mau ngerjain malah jadi nggak tega. Wakaka.

Menurutku sifat Chery ini dikarenakan lingkungan di rumahnya. The only daughter of the billioner. Denger-denger dia dulu punya kakak cowok yang kemudian meninggal karena kecelakaan saat dia SD. Karena terbiasa dimanja oleh kakaknya kemudian papi dan maminya yang overprotektif semenjak kematian kakaknya, maka tercetaklah Chery yang seperti ini.

Kami berdua sedang menuju kantin karena memang sudah jam makan siang. Letak kantin terletak cukup jauh tepatnya diluar koridor ini. Chery sedang menggigit-gigit bibirnya seperti akan mengatakan sesuatu hanya saja dia ragu. Berteman dekat dengan Chery membuatku mengerti gerak-geriknya.

“Kenapa Barbie?” tanyaku.

“Mmm.. Rea, Chery pengen…..”

“Hai sayang.” Sebelum Chery melanjutkan perkataannya, Theo, pangeran cintaku datang menghampiri dan mencium bibirku. kecupan kecil yang selalu kita lakukan saat bertemu. “Mau makan siang ya?”

“Ng..iya….errr…” aku melirik kearah Chery untuk memberi tau Theo kalau tadinya aku sedang berbicara dengan Chery.

“oh, ada Chery. Hai Cher!” sapa Theo berbasa-basi. Hanya Theo dan guru-guru sekolah yang tidak memanggil Chery dengan panggilan “barbie”. kata Theo ‘Barbie itu kayak panggilan sayang yang spesial. Aku nggak bakal manggil cewek lain dengan nama panggilan yang aneh-aneh kecuali sama kamu.’

Oh, romantisnya Theo-ku!

Sepertinya Chery kesal karena kemudian bibirnya memonyongkan manyunan yang biasa dia keluarkan kalau sedang kesal, “Urgh, Theo nyebelin.”

“HHa, ya udah honey, tadi mau ngomong apa??”

“Chery mauuuuu…..”

“Ah, sayang, makan siang bareng-bareng yuk!” Lagi-lagi Theo memotong perkataan Chery sambil menyunggingkan senyum jailnya. Aku jadi ikut tersenyum. aku tau kalau Theo memang ingin mempermainkan Chery..

“AAAHHH, THEO NYEBELIN! CHERY KAN MAU BILANG KALAU CHERY PENGEN PUNYA PACAAAAAAAARRRR!!!!”

Tanpa sadar Chery berteriak terlalu keras. Sepertinya orang-orang di sekitar sini mendengarnya dan semuanya secara bersamaan melihat Chery.

“Oooppsss!”

“Oiiii semuanya, kita BARBIE GIRL PENGEN PUNYA PACARRR!!!” terdengar teriakan dari cowok di ujung koridor.

“Kita bikin sayembara dapetin barbie!”

“Semua cowok boleh ikutan!”

“Cewek juga kalau mau!”

“Fairplay ya guys!”

Entah suara-suara siapa yang jelas daritadi suara itu saling bersahut-sahutan.

“Mulai dari……..SEKARANG!”

Mendadak semua cowok di sekitar kami (kecuali Theo tentunya) berlarian ke berbagai arah. ada yang ke kelas untuk menyiapkan rencana, ada yang ke perpustakaan untuk menyalin puisi-puisi romantis, ada yang ke kebun sekolah metikin bunga. Ou Em Gee!

Theo menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju sedangkan aku hanya mengangkat bahu.

“Barbie, jangan lupa pilih aku ya.” Si Joko, murid Jowo tulen super cupu dan nggak banget yang entah muncul darimana tiba-tiba muncul di sebelah Chery buat ngomong barusan.

Sepertinya sekolah ini akan kacau untuk beberapa hari kedepan. Yang jelas kekacauan ini hanya akan selesai kalau Chery memilih pangerannya. Argh Chery, dengan kehadiranmu saja sekolah ini sudah cukup heboh, jangan ditambah lagi dong!

**********

“Barbie! Look at your desk!” Perintahku saat Barbie baru saja tiba di kelasnya. Setiap pagi memang selalu seperti ini. Selalu aku yang nyampe duluan di sekolah. Aku yang sudah datang dari tadi dan kebetulan mampir ke kelas Chery hanya bisa melongo saat melihat bangku tempat Chery seharusnya duduk.

“Rea ngomong apa sih?” Iya ya, aku baru inget kalo aku lagi ngomong sama Chery yang nggak bisa bahasa Inggris. Tampang sih boleh bule, tapi…………….. ah, sudahlah!

“Barbie, sekarang lo liat hasil perbuatan lo kemarin!”

Chery mencoba mengintip bangkunya dari balik tubuhku, dan…..

“Barbie, gue kasih tau sebelumnya, lo jangan syok ya ntar.” Huft, untuk aku sempat mengatakannya sebelum terlambat. Sebelum Chery pingsan melihat bangkunya.

“Ih Rea apaan sih, Chery kan mau liat!” Chery menepis tubuhku untuk melihat sesuatu yang kuhalangi tadi…

Dan……….

“YA AMPUUUUNNN!!!!!”

Apa kubilang! Sudah kuduga dia syok!

“INI BAGUS BANGEEEETTTT.”

Apa???

APPPPAAAAA???

GUE NGGAK SALAH DENGER KAN?????

Pemandangan aneh di bangkunya ini dibilang bagus? Ou Em Gee, bangku yang udah kayak pesta ulang tahun anak-anak dibilang bagus?? Ada balon, cake bertingkat, gunung coklat kecil, beberapa bingkisan, dan benda-benda aneh lainnya sampai-sampai menutupi seluruh permukaan bangku. Kayaknya yang dateng kesini pada nganggep bangku Chery itu keramat kayak kuburan Suzanna! Harus rajin-rajin ‘nyekar’ pake coklat di bangkunya. YANG KAYAK GITU DIBILANG BAGUS??

SHOCK!!!!

Pas ritme jantungku kembali normal karena Shock yang tadi, lagi-lagi jantungku harus menjadi korban karena (lagi-lagi) aku dikagetkan oleh derap langkah beberapa orang yang seirama sekaligus. Beramai-ramai, serentak, ada apakah ini? Emangnya ada gempa bumi sampe orang-orang mesti cepet kabur?

Yah, emang beneran ada gempa bumi! Gempa bumi LOKAL yang disebabkan oleh derap-derap langkah yang ternyata disebabkan oleh…………………. (hallah, ribet banget dah bahasanya)

Koor cowok-cowok Barbie’s fans club.

“Pagi Barbie….” Kata mereka bersmaan, dengan nada yang sama, dan dengan mimik wajah yang sok imut yang juga sama. Wah hebat, sepertinya mereka sudah berlatih bersama kemarin! (*catatan penulis: sepertinya Rea ini sudah belajar sarkasme dengan baik dan benar ya dari awal cerita.. >__< ;;)

Chery memainkan rambutnya, menyisipkannya di telinga, kemudian barulah tangannya melambai, “Pagi semua!”

Melihat lampu hijau dari Chery, cowok-cowok tadi semakin menjadi-jadi. Merekagsung berebut mendekati Chery dan memulai aksi mereka.

“Barbie, balon aku bagus nggak?”

“Cake dari gue enak nggak?”

“Coklat dari ane jangan lupa di ma’em ya!”

“Coklat mulu dari tadi! Permen jahe aku dong!”

“STOOOOOPPPP!!!!” Kataku tiba-tiba. Nah lo, kok aku yang pusing ya ngdenger para burung berkicau?

Chery melemparkan senyum ‘terimakasih’ kepadaku kemudian kembali melemparkan senyum kepada para burung yang kusebutkan barusan, “Coklat, permen, cake-nya bakal Chery makan. Jafi semuanya tenang ya..”

Bukannya tenang, kumpulan burung itu malah mencoba cara baru, “Barbie, aku punya puisi untuk kamu.”

“Barbie, dengerin juga lagu ciptaan gue buat lo.”

“Mau liat nggak cara aku makein pelet ke kamu?”

“Gue bakal ngedance khusus buat lo.”

ARRRGGGHHH, mereka memang sudah gila! Aku stress berada disini! (kok aku yang stress? Chery aja dari tadi biasa aja dan cuma melemparkan senyum). Aku sudah tidak tahan! Harus segera keluar dari sini!

Aku melangkah keluar meninggalkan kerumunan yang sekarang semakin aneh saja. Lagian sepertinya tidak ada yang peduli padaku disana dan tidak akan ada seorangpun yang menyadari kalau aku sudah tidak ada disana. Aku keluar, namun pandanganku tetap tak lepas dari kerumunan burung itu. Sampai akhirnya….

BUUKKK!!

Aku menabrak seseorang. Untungnya hanya tabrakan kecil sehingga tidak menyebabkan aku terjatuh atau orang yang kutabrak terjatuh.

“Sorry.” Kataku. Tapi orang yang kutabrak tetap diam. Dan….. Neil??

“Sorry Neil, gue nggak sengaja.”

Neil, dengan mukanya yang tanpa ekspresi seperti biasa (silahkan kalian bayangkan), “Gue emang lagi nyari lo.”

Ish, nggak nyambung banget! Aku kan tadi bilang ‘sorry’. Mestinya dia jawab ‘gak apa-apa’ atau ‘no problem’ gitu??

Ah, sudahlah, “Oh ya? mau ngapain?”

“Ini.” Neil menyerahkan beberapa berkas padaku. “Lo diskusiin sama bendahara OSIS tentang perkiraan biaya Bazar bulan depan terus buat laporannya.”

Oh iya, tugas OSIS ternyata, “Oke.”

nggak disangka-sangka Neil malah senyum, “Thanks”

Neil melenggang pergi tapiiii, “Neil!” panggilku lagi.

Neil tak kembali tapi hanya membalikkan badannya saja, “Apa?”

“Lo nggak ikut disana?” Aku menunjuk kelas Chery dimana keributan masih berlangsung.

“Ikut sama cowok-cowok gila itu? No, thanks.” Setelah itu Neil kembali. Urgh, tentu saja! Betapa bodohnya aku menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah aku ketahui! Lagipula ngapain juga gue nanya kayak gitu!

Dari kejauhan terlihat sosok Theo yang mendekat padaku. Tersenyum manis seperti biasa. Setelah mendekat kecupan kecil kami yang biasa kembali dilakukan, “Pagi sayang!”

“Pagi!” jawabku. Saat aku menjawab, tangan Theo mulai menjalar ke pinggangku kemudian mengiringku berjalan menuju kelasku.

“Tadi aku ngeliat Neil. Emang dia ikut kontes Chery?”

Mendengar hal itu aku tertawa. Theo menyebut ‘kontes Chery’ sebagai simbol kekacauan yang terjadi sekarang, “Ya nggak mungkin lha sayang. Neil kan bukan orang yang kayak gitu.”

Theo pun tertawa, “Kamu ngomong kayak gitu kayak kamu ngenal Neil aja. Hahahah. Emang tadi dia ngapain?”

“Ini.” Aku menunjukkan berkas-berksas yang dari tadi kupegang. Tugas OSIS, seperti biasa.

Jarang-jarang kami berduaan seperti ini. Biasanya selalu ada Chery diantara kami. Jadi aku berusahan menikmati setiap detik bersama Theo. Kami berjalan berdua, dia merangkulku sampai tiba di kelasku. Ah, andaikan momen ini tidak terhenti oleh bel masuk.

KRIIIIIIINNNNGGGG!!! Baru aja dibilangin, bel masuk nyebelin, pengganggu, dan jelek itu berbunyi!

“Sayang, aku masuk dulu ya! Bye! Mmuaaahm.” Ciuman singkat dan terburu-buru itu lagi-lagi terjadi.

“Bye!”

Dan Theopun pergi ke kelasnya yang ada di sebelah kelasku…

*******

Setelah kejadian ‘gunung coklat dan para burungpun berkicau’ tadi pagi, suasana sekolah tidak lantas menjadi lebih riuh daripada yang tadi pagi. Tapi tidak juga menjadi lebih tenang. Karena keributan yang terlalu ribut itu, aku meminjam kunci ruang OSIS pada Neil (aku sudah cerita belum sih kalau Neil itu ketua OSIS?) dan menyembunyikan Chery disana selama jam istirahat. Itu juga atas saran Neil sih.

“Masalah ini harus cepat diselesaiin! Gue nggak mau tau! Kalo nggak sekolah bakal tambah ribut! Hari ini mungkin lo bisa sembunyi disini, tapi besok-besok bakal ketauan juga!” Neil memarahi kami saat menumpang di ruang OSIS. Tapi sepertinya bukan ‘Kami’ yang dimarahi, melainkan hanya ‘Chery’ karena tatapan mata Neil tak bisa lepas dari Chery.

“Reaaaa…” Chery merajuk

“Bener kata Neil Barb, lo harus cepet-cepet milih satu diantara mereka. Pilih aja satu apa susahnya sih!”

“Tapi Chery kan nggak cinta…”

Kemarahan Neil memuncak. Ya, aku mengerti posisinya yang sebagai ketua OSIS membuatnya bertanggung jawab atas kekacauan di sekolah. “Emang harus cinta ya? Kalau masalah udah kayak gini bukan cinta yang lo butuhin!”

“Hiks..hiks..” Chery mulai menangis. “Tapi kan harus cintaaa!!”

“Cup cup cup, Barbie, liat gue. Kalau gitu kamu usahain aja jatuh cinta ama mereka. Lagian kamu tau darimana sih soal cinta-cintaan kayak gitu?”

“Dari film Barbie..”

Ya ya ya, kenapa aku tidak menduga sebelumnya. Film Barbie, oke.. Tenang Rea, tenang! AAAAARRRRRGGGHHH, Film Barbie bodoh! Jaman sekarang mana ada cinta-cintaan kayak film Barbie!

“Reaaa…”

Dug! Dug! Dug! Pintu ruang OSIS digebuk (aku bilang ‘digebuk’ lho, bukan ‘diketuk’), “Permisi..permisi.. ada Barbie disana?”

Oh tidak! Kami ketauan!

Dug! Dug! Dug!

“Rea.!.!” Baik Barbie maupun Neil dua-duanya memanggil namaku, tapi dengan nada yang berbeda. Kalau Barbie menyebutnya dengan nada memelas, sedangkan Neil menyebutnya dengan nada membentak. Lho, kok Aku??

“AAARRRGGGHHH!!! Gue nyerah! Gue pusing!”

BAAAAKKK!! Aku membuka pintu ruang OSIS dengan kasar dan marah!

Dari belakang, Neil memegang pundak untuk menenangkanku. Yah, aku sedikit tenang. Setidaknya nafasku tidak ‘naik-turun’ lagi.

“Semuanya tenang!” perintah Neil. “Barbie udah punya cowok, jadi nggak ada yang boleh ganggu dia lagi!”

“Oh ya?? Siapa?”

“Gue!” Kata Neil.

“What!” Aku sedikit kaget.

“Unbeleivable”

“Nggak mungkin!”

“Impossible”

“Weird.”

“Do you believe it?”

Bisik-bisik terjadi disana-sini. Cewek-cewek yang melihatpun kemudian berbisik-bisik kemudian menatap Neil dengan pandangan benci. Sekarang Chery tidak hanya akan memiliki fans club, tapi juga ‘haters’, aku yakin itu!

“Puas lo pada!”

Satu-persatu dari mereka bubar. Baguslha, setidaknya sekolah akan lebih tenang untuk beberapa dekade kedepan.

“Setidaknya cake aku dimakan ya, Barb.”

“Coklat gue juga.”

“Permen jahe aku juga.”

Ya ampun, mereka ini!

Tapi Chery sepertinya senang-senang saja kemudian menunjukkan senyumnya yang biasa, “Oke, semuanya bakal Chery makan.”

Sekarang mereka benar-benar pergi. Waw lega! Sekarang aku bebas menemui Theo.

“Ayo Cher.”

“Nggak usah, Re. Lo pergi aja ketemu Theo sendiri. Sekali-kali lo pengen kan berdua aja sama Theo? Lagipula ada yang mau gue omongin sama Chery.” Neil tersenyum, sama dengan senyumnya yang tadi pagi. M.A.N.I.S B.A.N.G.E.T

“Chery?”

“Iya,nggak papa, Re. Chery nanti ke kelas sendiri aja.”

Kalau Chery nggak keberatan.. “Oke, gue pergi ya.”

Segera saja aku memunggungi mereka dan melangkah pergi. Tapi aku tetap merasakan tatapan tajam dari Neil yang sepertinya mengawasi gerak-gerikku.

Ake berbelok menuju koridor lain tapi aku tidak melangkah lebih jauh. Aku menghitung dalam hati 1…2…3…4…5… Neil sekarang pasti berpikir kalau aku sudah cukup jauh.

“Lo bisa nggak sih bikin Rea tenang sehari aja? Kasian dia!” Walaupun suara Neil terdengar kecil dari sini, aku tetap masih bisa mendengarnya. Jadi aku memasang telingaku agar bisa menangkap percakapan mereka.

“Lo jangan ngarep lebih! Gue ngelakuin semua ini demi Rea. Inget baik-baik ya, kita cuma pura-pura!”

Deg! Apa maksudnya ini semua??

*********

Waktu: Sore hari, 1 jam semenjak bel pulang sekolah berbunyi

Tempat: Rumah Chery

Cast: Aku, Chery, dan Theo

“Reaaaaa!!!!! Huwee hiks hiks, Chery nggak kuat!!!”

Kami pulang dengan membawa berkantung-kantung coklat dan permen, tak lupa juga beberapa cake.

“Chery nggak kuat ngabisin semuanya!”

“Wakakakak..Hahahaha.. aduh! Hahahaha.” Theo daritadi tertawa melihat penderitaan Chery, bahkan dia tertawa sambil memegangi perutnya. Sebentar lagi kujamin dia pasti akan muntah!

“Reaaa…”

“Aduh Barb, lagian ngapain mesti lo abisin semuanya? Kan bisa lo kasih ke orang aja!”

“Tapi..tapi..tapi Barbie kan udah janji mau ngabisin!”

Oh, aku lupa. Chery akan bersungguh-sungguh dengan janjinya. Nggak pernah apa denger istilah ‘boong-putih’?? Boong demi kebaikan (dapet istilah darimana nih?).

“Hahahahah.. Wah, wakakakaka.. Hahahahahahahaa.” Tawa Theo semakin panjang saja.

“Uuh, Theo jahat! Chery kan lagi sedih, masa’ Theo ketawa.”

Tak lama kemudian Theo berhenti tertawa tertawa. Pandangannya berubah teduh kemudian membelai kepala Chery seperti membelai anak kecil. “Tenang, tenang, pasti ada jalan.” Theo terdiam sejenak lalu melihatku. “Rea?”

Aku mengangguk. Aha! Aku ada ide!

Aku mengambil baskom dan sendok pengaduk dari dapur, tak lupa juga pisau. Aku mengambil masing masing sedikit bagian bolu dari 3 buah cake yang ada kemudian menghancurkannya dalam baskom tersebut.

“Rea?”

“Udah, lo bdua diem aja. Liat aja gue kerja.”

“Emang lo mau bikin apaan?”

“Aku tersenyum cerdik, “Barbie kan nggak janji mau ngabisin, Barbie cuma bilang bakal ‘makan semuanya’ gue cuma ngambil sedikit-sedikit dari semua kue, coklat, dan permen yang ada. Terus gue satuin semuanya. Jadi kan Chery tetep nepatin janji. Tetep ‘makan semua’ iya nggak?”

Theo mengangguk setuju sedangkan Chery bertepuk tangan, “Horee!! Rea emang hebat!”

Lagi-lagi aku tersenyum, “Wah, nggak ada mentega ama bahan-bahan lain.”

Hoop, Theo berdiri, mengambil kunci mobil, kemudian bersiap pergi. Aku tersenyum kearahnya.

Adonan bolu tadi kucampur dengan coklat yang sudah kuparut dari masing-masing coklat yang ada (Chery membantuku memarut). kemudian tak lama kemudian Theo datang membawa mentega dan bahan2 lainnya. Semuanya dicampur, setelah itu kucetak lalu dipanggang sebentar agar parutan coklatnya meleleh.

Beberapa menit lewat, kemudian aku menyingkir dari Chery dan Theo untuk mengambil hasil pangganganku.

Hmm, baunya harum. Gumamku. Sepertinya akan jadi kue yang enak.

Setelah jadi, Kue tadi kulapisi dengan cream dari cake-cake yang ada dan sebagai hiasannya kugunakan permen-permen itu.

Aku kembali untuk menemui Chery dan Theo. Sepertinya mereka berdua sedang ngomong serius.

“Dia hebat lho. Dia pinteeeerrr banget. Sering ranking satu di sekolahnya. Dulu dia sering olimpiade matematika. Sering menang juga. Udah gitu dia ketua OSIS juga. Chery kagum sama dia.” Suara Chery yang khas itu berkoar-koar penuh semangat.

Aku meletakkan kue-kue barusan diatas meja tepat dihadapan kami bertiga, “Wah, jadi lo udah mulai kagum sama Neil?”

Chery tersentak mendengar nama Neil jadi gantian Theo yang angkat bicara. “Bukan kok sayang, dia lagi ngomongin kakaknya….yang udah meninggal”

“Mmm..Sorry.” Haddu, aku ini!

“Hahaha, Nggak pa-pa kok Rea. Chery juga nggak pernah sedih lagi. Itu kan udah lama banget.

“Tadi gue pikir itu Neil. Abis deskripsinya mirip banget.”

Chery terdiam lagi saat mendengar nama Neil, “Tapi kakak Chery baik.”

Wah wah, jadi Neil tidak baik begitu?

“Wah, keliatannya enak. Rea hebat deh.”

“Thanks.”

Tadaa!! Jadilah 4 kue kecil yang sepertinya enak. Aku, Chery, dan Theo mengambil kue tersebut masing-masing satu.

“Kue penuh cinta persembahan untuk Chery siap dimakan.”

“Kok kue penuh cinta sih?”

“Kan semua bahan-bahannya dari cowok-cowok yang ngasih dengan penuh cinta.”

Lagi-lagi Theo tertawa mendengar ucapanku. Tapi tak disangka-sangka Theo mengeluarkan sebuah bungkusan lagi dari kantong plastiknya. Sesuatu yang berwarna merah.

“Chery!” Ini bukan memanggil Chery, tapi yang dibawa Theo itu memang buah Chery yang sebenarnya. Theo menaruh Cherry-nya masing-masing satu buah ke masing-masing kue.

“Kalau gitu tanda cintanya ditambah satu lagi…”

“Wah enak! Manis!”

Kami semua tertawa dan mengobrol sambil memakan cake sederhana buatanku. senang sekali rasanya menikmati waktu seperti ini. persahabatan, canda, tawa, cinta..

“Rea, kue satu lagi buat siapa?”

“Ngg..aku sih mikirnya buat Neil. Dian kan udah lumayan membantu tadi.” Membantu sampai detik sebelum dia memarahi Chery maksudku. “Lo kasiin aja ke dia besok, Barb.”

“Ngg.. Iya.. Neil ya?? Hufft..” Chery menghela nafas. Aku tau sebabnya, mungkin karena dia habis dimarahi Neil tadi. Tapi sepertinya Chery akan berpura-pura kuat dan berusaha sekali untuk tidak menceritakannya padaku. Mungkin Chery takut merepotkan aku lagi seperti yang dibilang Neil. “Chery nggak mau ngasih ke Neil. Rea aja ya. Pleasee..”

Aku menoleh kearah Theo, meminta izinnya maksudnya, “Boleh.”

Ah, Theo-ku ini memang pengertian.

“Terus sisa coklat sama permennya mau diapain??”

“Tenang, Chery ada ide!”

*********

Aku, Chery, dan Theo menuju sebuah panti asuhan yang tak jauh dari rumah Chery. Chery senang sekali berada diantara anak-anak. Anak-anak itu mengerubuni Chery sementara Chery membagi-bagikan coklat dan permen itu.

Sementara aku dan Theo hanya mengamati dari kejauhan.

“She’s cute right.” Aku memulai pembicaraan.

“Are you lesbian or something? Cute?”

“Hahaha, I’m not. Still love you though. I’m not lesbian.”

“Love you too, honey.”

“I just think that Cherry’s cute. You know what I mean, eh?”

“Yeah..” Theo terdiam dan memperhatikan Chery “Like an angel..without wings..”

“By the way..thanks ya.” Aku tersenyum pada Theo.

Theo malah heran melihatku, “for?”

“Understanding me.” Aku melihat Chery kemudian menambahkan kalimatku. “….and Chery.”

“Hah?”

“Kita kan jarang ada waktu berdua. A normal couple always spend their time together without the ‘third’ person. Sorry.”

“Seriously, I’m fine. No need to worry about. Chery is like………. my younger sister. hahaha.” Sepertinya Theo mengerti maksudku.

“Hahaha.”

Kami tertawa berdua..

(Bersambung)

*********

10 pemikiran pada “Barbie Girl (cerpen/cerita pendek by me)

  1. bzbzbzbzbzbzzbzbzbzbz…..ralat tuh judul, bukan cerpen tuh namanya. Cebung. Wakakakaka. Selesain tuh cerbung, jangan sinetron2 amatlah Sof. Ok?😀

  2. Oii Chery, w pake pen name disini! Call me Angel!

    Kan dha w bilang,sepertinya cerita ini bakal kayak sinetron yang bersambung mulu..wakaka

    Cher, baca cerpen.net dun..There’s something I wanna show you..curhat via cerpen..hho

  3. Iy deh Angel. Wakakakaka. Ok, but my name’s CHERRY! Double R. Dan gw udah lama pake tuh nama pena 1 tahun lalu deh kira2, jadi jangan berprasangka pada diriku ok?

    Ok2, gw buka. Trus apa yg mesti gw baca?

    • @Ann_hyun makasih ya🙂 Sebenarnya Rea itu refleksi dari temen aku…dia mah kalo ketemu cowoknya emang suka gitu! (Sumpah, bukan aku deh yang kayak gitu!).. Arigatou udah nyempetin baca dan komen🙂 makasih makasih makasih🙂 btw, salam kenal🙂

  4. Ping balik: Plotting (let your finger dancing on your keyboard 3) « Angel's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s