Barbie Girl (Part 2)

(Baca bagian 1 dari cerita ini pada dua postingan sebelum cerita ini)

Keesokan harinya, pagi hari berlalu dengan tenang-tenang saja. Tak ada konfrontasi, tidak ada agresi militer Belanda, perang dunia 3 juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Begitupun pas istirahat, aku dan Chery melewati hari ini nyaris tanpa gangguan dari cowok-cowok berkicau itu. Mungkin mereka semua memang sudah menyerah soal Chery. Lagipula, lawannya Neil gitu lho, mereka pasti sudah minder dari awal kalau lawannya Neil si Mr. Perfect. Hhi, baguslah!

Tapi tetap saja ada yang kurang. Sejak kejadian ‘pengakuan palsu’ Neil kemarin, Neil sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk memainkan perannya dengan baik. Neil tetap cuek pada Chery (sebenarnya dia memang selalu cuek pada semua orang). Bahkan saat kami berpapasan pun Neil bahkan tak melihat sama sekali kearah Chery. Hm, kupikir sebentar lagi juga mereka akan curiga dan kehidupan yang tenang ini akan segera berakhir. Hiks..

“Rea, Chery nggak tau mau bikin apa. Hiks hiks.”

Lagi-lagi, tugas yang paling sering Chery kerjakan, REMEDIAL! Terutama pelajaran bahasa Inggris. Sungguh keajaiban besar kalau Chery bisa naik kelas hingga saat ini dengan kemampuan otaknya yang….. (Terlalu kejam untuk dikatakan). Saat itu Chery disuruh membuat teks mengenani ‘recount text’ sederhana kan. Tapi entah bagaimana Chery jadi membuat text tentang ‘My Dog’ mending kalau text itu dibuat dengan Bahasa Inggris yang baik dan benar. Tapi….. O Mai Gat! Chery benar-benar meng-Inggriskan Bahasa Indonesia. Coba lihat ini…

My Dog

I have a dog name Pinky (aku punya anjing namanya Pinky). Pinky is cute so much (pinky itu lucu banget). Fur soft (bulunya lembut), the tail often shaking shaking (ekornya sering goyang-goyang), I love pinky so much (aku sangat mencintai Pinky)……

Untuk kebawahnya tak usah dibahas, terlalu mengerikan untuk dibahas. “The tail often shaking shaking”??? Oh, tidak adakah struktur kalimat yang lebih buruk dari itu? (Mungkin ada, tapi saat ini aku sedang ingin sarcastic seperti biasa). Aku tidak ingin membicarakan ‘sisi gelap’ Chery lebih banyak. Begini-begini aku sahabatnya lho..🙂

Sebagai sahabat yang baik, sudah tugasku untuk membantu ‘menutupi’ kekurangan Chery. Kami memutuskan untuk belajar di perpustakaan sepulang sekolah. Bukan kami, lebih tepatnya Chery yang belajar. Aku hanya menemaninya sambil membaca komik. Kalau Chery sudah selesai menulis, baru aku yang mengoreksi pekerjaannya.

“Rea…”

“Udah, tulis aja dulu. Ntar gue baca.” Aku menanggapinya dengan ogah-ogahan. Nanggung, komiknya lag seru. Bentar lagi ada perang kaum Demon dengan kaum Angel di otakku.

“Susah ya Barb? Sini aku ajarin.” Seru suara nyelonong, cowok. Ya, aku kenal cowok itu. Salah satu anggota Chery’s fans club.

“Yah, aku aja deh yang ngajarin.”

“Gue lebih jagoan, gue kan pernah tinggal di UK!”

Baru aja dibilangin! Kenapa kehidupan yang tenang mesti berakhir hari ini juga. Huwee..hiks hiks.. Kalau aja Neil mau memainkan perannya lebih serius.

“Ehem!” Deheman penuh wibawa membuat kami semua terdiam. Librarian kami Mrs. Jenna melirik tajam pada kami semua. Hanya dengan gerakan tangan, Mrs. Jenna mampu membuat semua cowok-cowok burung itu keluar dari perpustakaan.

Yes, akhirnya dunia kembali damai.

“Ehem!” Kali ini Mrs. Jenna melirik kearahku dan Chery. Satu gerakan tangan yang tegas menyuruh kami ikut keluar.

“Lho kok saya?” Aku mencoba membela diri. Lagipula memangnya aku ngapain sampai haruys ikut diusir keluar?

“Huh!” Mrs. Jenna kembali dengan gerakan tangan saktinya. Ya, aku mengerti. Tag ada gunanya membantah. Harus cari tempat baru nih untuk mengerjakan tugas Chery.

Kami baru saja keluar dari perpustakaan ketika kami bertemu Neil. Aha!

“Neil!” Panggilku cepat sebelum dia pergi jauh. Ketika dia melihatku, aku menyuruhnya untuk mendekat. “Pinjem ruang ‘sunyi’ lagi dong.” Pintaku

Ruang sunyi yang kumaksudkan adalah Ruang OSIS. Kurasa Neil juga paham dengan maksudku. Neil kemudian melirik Chery dengan tatapan seakan-akan Chery memiliki cap bertuliskan ‘masalah’ di dahinya.

Sepertinya Chery sadar kalau dia sedang ditatap oleh Neil. Bukannya marah dengan tatapan kasar itu pipi Chery malah bersemu merah. Aku punya firasat kalau ini awal dari masalah lainnya. Oh Tuhan, lagi-lagi kau tidak memberikan keadilan yang cukup untukku. Kenapa aku harus selalu dekat-dekat dengan temanku yang selalu dekat dengan masalah (lagi-lagi kata-kata yang ribet). Dan kenapa aku??

Ralat! Tuhan mungkin adil, aku kan punya Theo yang bagiku bagaikan oase di padang pasir (caella, melankolis banget dah!). Sebagai ‘hadiah’ atas Theo yang aku miliki, Tuhan memberikanku kebisingan-kebisingan yang membuat hidupku tidak tenang. Walaupun kebisingan itu BUKAN disebabkan olehku.

“Oii, boleh nggak pinjem ruang sunyinya?”

“Oh iya. Apa? Ruang sunyi? Hahaha, bisa aja kamu!” Hah? Neil ketawa?? Seumur-umur baru sekarang aku ngeliat Neil ketawa. “Iya iya, boleh. Theo juga lagi ada disana, ngerjain tugas juga. Oh ya Rea, bisa nggak ntar kita ketemu d ruang OSIS ngebicarain masalah bazzar sekolah? Sekarang gue mau ketemu kepsek dulu.”

“Ngg..bisa-bisa..”

Sekarang Neil malah tersenyum, “oke deh, sampai nanti.”

************

“Hahahahahahaha.” Theo langsung tertawa begitu mendengarkan penjelasan Chery tentang kejadian di perpustakaan tadi.

“Kok Theo, malah ketawa sih? Chery kan lagi sebel!”

“Hahahaha, sekolah bakal heboh terus sampai lo punya pacar beneran!” Theo memberi saran. Ada benarnya juga sih. “Lagian emang nggak ada apa cowok yang lo suka?”

Mendengar ucapan Theo, pipi Barbie memerah malu, “Ngg, Chery pengen punya pacar yang tenang, kalem, yang nggak ribut.”

Aku bisa segera menebak, deskripsi cowok itu pasti terinspirasi dari film Barbie! Lama-lama dia pasti akan menyebutkan ‘pangeran dari negri yang amat jauh, super tampan, mengenakan pakaian kerajaan, menggunakan mahkota, dan tak lupa menunggang kuda putih! Silahkan cari sampai dapat! Jaman sekarang orang yang menunggang kuda kemana-mana mah bukan pangeran! Tapi tukang kuda yang menjual jasa ‘mengajak’ anak kecil menunggang kuda. Itu lho, yang sering ada di pasar Minggu.

“Neil ya?” Tebakku. Pipi Chery kembali bersemu merah. Karena malu, Chery menutupi kedua wajahnya dengan tangan. Kalau begitu jawabanku benar! Neil! Hah? Bisa-bisanya. Dia dan Neil kan bagaikan langit dan bumi!

“Kalau gitu lo tembak aja, Cher. Lagian….” Theo yang sekarang menjawab.

“Lagian apa?”

“Cowok mana yang nggak mau sama lo.” Lanjut Theo lagi.

“Tapi kan Chery maluuuu…”

“Barbie sayang, honey, kalo udah kayak gini yang penting lo punya pacar!” Ucapku seleeeemmmbbbuuuttt mungkin (iklan pelicin, pewangi, pelembut jadi satu nih! Tak boleh sebut merk🙂

“Ngg.. Nanti Chery pikirin lagi deh. Yang penting, Rea! Bantuin Chery ngerjain tugas.”

“Iya sayang, bantuin tugas aku juga dong….”

“Hahahaha, kalian berdua itu mirip!”

“Mirip??” Kata Chery dan Theo bersamaan.

“Iya, sama-sama berisik. Hahahah.”

Jadi begitulah agendaku sore hari. Membantu Theo dan Chery mengerjakan tugas mereka masing-masing (Lagi-lagi harus kukatan kalau mereka yang mengerjakan, aku membaca komik. Kalau mereka selesai berkutat dengan tugas-tugas itu, barulah aku yang mengoreksi kalau ada kesalahan. Sore itu juga aku dan Chery sama sekali tidak mendapatkan gangguan yang brisik-brisik itu. Mau tau alasannya?? Alasannya aku menuliskan ancaman yang kutempelkan di luar pintu ruang OSIS yang berbunyi…

“DILARANG MASUK, MENGETUK, BERTERIAK-TERIAK, MENGIRIM PESAN, atau hal yang bersifat MENGGANGGU, bagi yang tidak berkepentingan. Barangsiapa yang melanggar akan BISULAN, KUTILAN, BOROKAN, dan MANDUL seumur hidup!”

Ternyata cara ini ampuh juga. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin aku memikirkan cara ini. Mungkin bisulan, kutilan, borokan masih kurang dibandingkan mandul! Dan kurasa memang mereka takut dengan kata mandul. Hahahaha.

Tok tok tok! Ketukan pintu lagi. “Barbie barbie, keluar dong.”

Oh tidak, pasti cowok-cowok aneh itu lagi. BRAAAKKK!! Kubuka pintu ruang OSIS dengan kasar. Dan yang muncul disana si Sa’id, salah seorang anggota Barbie’s fans club. Salah satu ‘blasteran’ di sekolah juga. ‘Blaster’ ama Arab!

“LO NGGAK LIAT APA!” Gue nunjuk ke kertas ancaman yang gue tempel di pintu itu.

“Oh itu, ane nggak takut ama bisul, kutil, ama borok! Ane punya obatnya.” Sa’id mengeluarkan botol kecil yang didalamnya berisi semacam minyak. “Ini obat dari paman ane. Impor dari Arab. Kutil, Borok, Bisul InsyaAllah hilang. Harganya tidak mahal, cukup lima belas ribu rupiah. Kutil, kadas, kurap, borok, bisul, panu, semuanya bisa diatasi!” Ish, udah kayak mau dagang aja ni orang.

“Lo nggak liat ini?” Aku menunjuk pada kata mandul. “M.A.N.D.U.L! Minyak lo mah nggak bakal mempan ama yang ini!”

“Emang mandul itu apaan ya?”

Sepertinya gunung api di kepalaku udah mau pecah. Mukaku juga sudah merah padam menahan perasaan sebel yang memuncak, “AAAARRRGGGHHH!!! Pokoknya lo mandul titik!”

BRAAkk!! Lagi-lagi pintu ruang OSIS kubanting. Hmm, sepertinya pintu ini tidak akan panjang umurnya. Jangan bilang-bilang Neil atau anggota OSIS yang lain ya. Kalau mereka tau dan kalu sampe pintu ini rusak, pasti gue dhe yang pertama dimintain biaya perbaikannya (sebenernya sih pasti pake biaya sekolah atau kas OSIS, cuma lagi pengen melebay aja).

Kulihat Theo tertawa puas seperti biasanya sedangkan Chery hanya manyun-manyun mengetahui kalau masalah yang menghampiri adalah ‘masalah biasa’. Baik aku maupun Chery sudah sangat lelah dengan semua ini. Tunggu tunggu, ngapain aku harus ikutan capek ya?

“Kenapa sih mereka nggak mau berenti gangguin Chery.”

“Hahahahahahahhahhahahahaha, Karena Chery terlalu baik dan nggak tega buat marah ke mereka. Mereka manfaatin itu, makanya..” Theo hanya menunjukkan dengan kode badannya yang seakan membentuk kalimat ‘jadi begini.’

Huft, ya ya ya, terlalu baik!

“Hahahaahahahaha, lagi-lagi Theo ketawa. Tenang dong sayang! Mereka pasti nagnggep kamu ‘naga penjaga tuan putri di menara. Hahahahaa.”

“Hahahaha.” Akupun ikut tertawa. Tapi tawaku dihentikan oleh…..

Tok tok tok..Ketukan itu lagi, Oh no no no..

Aku menarik nafas, menyiapkan diri dengan semprotan amukan yang paling tajam. Aku ingin membuka pintu dengan gaya sedramatis mungkin. Bahkan kata-kataku untuk ‘menyemprot’ ini sudah tersimpan dengan rapi di kepala, jadi nanti aku nggak bakal kehilangan kata-kata.

BRAAAKKK, “Heh bego, nggak denger kata-kata gue tadi?”

Tapi sesuatu tidak berjalan dengan lancar. Karena tadi aku terlalu terburu-buru dan bahkan belum melihat wajah orang yang ku semprot, pijakan dan keseimbanganku didepan pitu ruang OSIS tadi belum sempurna. Aku berdiri di tepi pintu ruang OSIS. Ruang OSIS memang dibuat sedikit lebih tinggi dibandingkan koridor di luar. Jadi aku berdiri ditepi ruang OSIS itu, tentu saja mengambil pijakan disana membuatku terjatuh (kalau yang tidak mengerti pendeskripsianku, anggap sajalah aku jatuh!)

Hoop, untung saja orang yang tai mengetuk pintu itu dengan sigap menangkapku. Huft, malunya.. Aku sempat terlena sesaat dalam pelukan cowok ini, baunya harum. Lagipula sepertinya aku nyaman sekali berada di pelukannya. Dan betapa kagetnya aku ketika mengetahui siapa yang menangkapku tadi.

“Waa, Neil! Neil, ngapain lo kesini?”

“Kata-kata lo yang mana?” Neil berhenti sebentar. “Hehe, lo masih mau gue peluk atau gimana nih?” Saat itulah aku menyadari kalau aku masih berada dalam pelukan Neil. Sementar di dalam ruang OSIS Theo daritadi tidak berenti tertawa sedangkan Barbie tersenyum kecut. Ya ampun, hebatnya aku! Aku bahkan bisa membuat Chery cemburu!

Cepat-cepat aku bangkit kemudian mengambil pijakan yang pas, jangan sampai aku terjatuh lagi “Ng..sorry.”

“Hahaha, nyatai aja. Gue udah bilang kan kalau gue mau ketemu lo ngebicarain soal Bazar sekolah?”

“Ng..iya..”

Neil masuk keruangan dan langsung menuju ke tempat Theo. Mereka kemudian mebicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kelaki-lakan mereka. Maksudu mereka mengobrol tentang sepak bola, otomotif, tinju, dan lain-lain yang berhubungan dengan kehiatan cowok. Hayo, siapa yang udah mikir macem-macem? Hihihi.

“Barbie!” Aku setengah berbisik menyuruh Chery mngikutiku. Aku memberikan cake sederhana buatanku kemarin pada Chery. “Bilang aja ini lo yang buat. Kasiin ke Neil!”

Chery tidak mengatakan apa-apa lagi, di langsung menuju Neil, “Neil.. Ini..”

“Lo yang buat?” Neil menatap tajam seperti biasa pada Barbie. Kejam banget Neil!

“Ng..ng..Rea yang buat!”

Lha, kok aku? Oh iya, ini kan Barbie! NGGAK BISA BOONG. Kalo boong takut dikutuk punya idung panjang kayak pinokio!

“Oh ya?” Neil mencicipi sedikit diantaranya. “Enak banget, pasti lo pinter masak ya Re?”

Aduh, makin berasa bersalah aja gue ama Barbie. Tapi kayaknya Barbie-nya biasa-biasa aja sekarang. Dia malah udah siap-siap mau pulang. “Semuanya, Barbie duluan ya.”

“Yop!”

Kini tinggallah aku, Theo, dan Neil d ruang OSIS. Neil duduk di kursi khusus ketua OSIS dimana aja meja dihadapannya, sementara Aku duduk di hadapan Neil sementara Theo berdiri memegangi pundakku. Hahaha, dalam posisi seperti ini aku jadi membayangkan adegan di ruang dokter kandungan. Neil dokternya, aku sang istri, sementara Theo yang suami berdiri memegangi pundak istrinya. Mirip sekali bukan! Hahaha, aku jadi malu🙂

“Laporan yang gue minta kemarin gimana Re?”

“Ada, nih udah beres.”

“Terus soal bazar kita nih, soal proposal yang lo sebar gimana?”

Aku tersenyum bangga, “Sepertinya berhasil, sebagian besar sponsor udah setuju. Proposal yang belum dapet tanggepan cuma satu, tapi kalau mereka nolak juga, gue rasa sponsor yang ada udah bisa nyokong acara kita.”

“Great!” Sekarang Neil benar-benar senang. “Gue beruntung ada lo.”

Oops, lagi-lagi pipiku bersemu merah. Kalau saja Neil bilang ‘OSIS beruntung ada lo’ mungkin gue biasa aja, tapi ini Neil menyebut ‘GUE beruntung ada lo’. Urgh,untung saja Theo berada di belakangku jadi dia tidak melihat rona mukaku yang memalukan. Sayangnya Neil melihat dan menyadarinya! Dia jadi tersenyum jahil. Argh, bisa ge-er dia ntar!

Gara-gara merhatiin muka Neil mulu, aku jadi tidak memperhatikan yang lainnya, padahal ada paku yang mencuat di meja tempat aku meletakkan tanganku. Dasar, orang yang bikin mejanya nih nggak becus!

“Ah!” Aku baru menyadari kalau tanganku sudah tergores paku tersebut. Terlambat, cairan merah dan hangat itu sudah mengalir. Ah, ternyata aku tergores cukup dalam sehingga lukanya mengalir dengan deras. Aku hanya meniup-niup di bagian luka tersebut agar cepat kering. Tapi Theo bertindak lebih jauh dariku, dia berlari menuju UKS, mengambil peralatan P3K, lalu mengurus lukaku dengan baik.

“Thanks.”

“Pakunya karatan. Kalau nggak diurus kayak gini bisa tetanus!” Hahaha, Theo sok tau nih. Tapi aku sedang dengan perhatiannya. Theo meniup-niup lukaku sebelum membalutnya. Selesai dibalut dia juga mencium balutannya. “Mantra biar cepet sembuh.”

“Enak banget ya mesra-mesraan di depan orang!” Oops, kami jadi lupa kalau ada Neil disini. Ternyata Neil sudah ‘memukul’ si paku agar tidak mencuat lagi. Neil-pun tersenyum manis yang jarang sekali terlihat di depan teman-teman lain. Wah, aku beruntung sudah pernah melihatnya. “Biar nggak ada korban kayak lo lagi.”

“Makanya punya pacar!” Theo melempar sisa perban kearah Neil.

“Tau tuh Neil, kenapa sih lo ngejomblo terus?”

“Gue males jadian. Cewek-cewek disini berisik! Manja, cerewet, gue nggak tahan ama cewek kayak gitu.”

“Terus lo maunya cewek yang kayak gimana?”

“Hahahaha, yang kayak Rea kali ya.”

BAM! Saat itulah kami mendengar pintu dibanting (sepertinya pintu ruang OSIS memang akan bernasib sial untuk beberapa dekade kedepan). CHery!

“Hiks..hiks..” Chery menangis tapi bukan tangis manjanya yang biasa melainkan tangis tersedu-sedu. “Jadi Neil suka cewek kayak Rea ya?”

“Iya!” Ish, Neil! Rese banget ni anak. Nggak tau apa kalau Chery suka ama dia!

“Barbie, Neil cuma bercanda kok. Tadi kan juga dia ngomongnya sambil ketawa. Lagian kok lo belum pulang sih?”

“Hiks hiks, Chery nguping.” Saat seperti inipun masih sempat-sempatnya jujur. Polos banget sih ni anak. “Kalau Neil maunya kayak gitu, besok Chery bakal berubah?”

Jadi Power ranger maksudnya?

Chery langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi. Awalnya aku berniat mengejar Chery tapi kemudian ditahan oleh Theo.

Neil menatapku merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok Neil, kamu kan tadi cuma bercanda. Chery-nya aja yang nggak bisa bercanda. Dia pasti nganggepnya lo serius.”

“Iya..” Aku tidak mengerti tapi ada raut muka sedih dimuka Neil. Entah sedih atau merasa bersalah. “Gue emang bercanda.”

************

“Pendatang baru!”

“Mobil asing!”

Bisik-bisik terdengar di kanan-kiri lapangan parkir sekolah saat melihat mobil Honda city hitam yang biasanya tidak terlihat (waw! PAsti mobil itu invisible sebelumnya [pura-pura bodoh!]). Bukan, bukan itu maksudku tentu saja. Maksudku, sejauh pengetahuanku tentang sekolah ini, tidak ada siswa (atau siswi) yang mengendarai mobil Honda city warna hitam. Murid barukah?

Tapi keherananku akan mobil asing ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keherananku saat melihat siapa yang turun dari mobil itu. Sosok yang sangat kukenal, tapi sangat berbeda dari biasanya? Apakah itu benar-benar…. Barbie??

“Barbie!” Aku menghampirinya. “Ini bener-bener lo?”

“Pagi Rea.” Cherry benar-benar aneh! Senyum sok imut dan manjanya itu udah ilang, diganti ama wajah datar dan nggak banget! RAmbut yang biasa diurai sekarang jadi diiket buntut kuda! Dan…. Pakaian dan style-nya itu loh, bener-bener polos! Cuma pake seragam sama jam tangan item yang biasa aja. Hah? Kemana tuh pernak-pernik warna-warninya?? Kemana juga jam tangan super norak yang biasa dia pake??

“Eh, itu Barbie? Serius lo?”

“Ya ampun, si Barbie kesambet apaan ya? Homda jazz PINK yang norak itu dikemanain? Oh, gue tau! Mungkin dia abis tabrakan berat pas mobil PINK-nya itu! Makanya otaknya jadi ada sedikit gangguan. Yah, emang otaknya udah gangguan dari dulu sih.” Nggak gue doank yang melongo ngeliat Chery. Satu sekolah juga melongo! Ini salah satu celotehan anak yang bias terdengar olehku.

“Lo kesambet apaan sih, Barb?”

“Nggak ada, gue Cuma pengen suasana baru aja.” Gue? Sejak kapan Chery ber ‘gue-gue’ ria? “Oh ya, nama gue Chery, bukan Barbie!”

Di kejauhan, terlihat ‘cowok-cowok berkucau’ berjalan mendekati kami berdua. Ya ya ya, aku tahu kalau maksud mereka sebenarnya adalah berjalan menuju Barbie, “Selamat pagi, Barbie….”

“Iiih, nama gue C.H.E.R.Y, bukan Barbie!” Hahaha, tapi tetep aja, walaupun cara ngomongnya udah beda, suaranya yang cempreng dan sok imut itu kedengeran juga.

“Chery fake maksud lo?”

“Kalau iya kenapa?” OMG, itu nada sarcastic milikku! Tidak boleh ada yang mencoba menjadi sarcastic selain aku!

“Lo lagi gila ya, Barb.”

Aku langsung pergi meninggalkan si ‘Cherry fake’ itu sendirian disana. Uh, pagi hari yang buruk.

******* —————————————————————————————————

Udah jam istirahat makan siang, aku Cuma ‘menyepi’ aja di kelas, sendirian tanpa Chery ataupun Theo. Lagian Theo kemana sih, daritadi nggak muncul-muncul? Sebel juga dari tadi sendirian. Aku Cuma berharap keanehan Chery ini hanya berlangsung sementara. Oh tidak, maksudku semoga kenaehan Chery yang lebih aneh daripada biasanya ini bias berlangsung sementara (aku tahu dari dulu dia memang sudah aneh, tapi kali ini benar-benar lebih aneh lagi). Yang aku nggak ngerti apa sih alasan Chery samapai berubah kayak gitu?

Neil??

Nggak, nggak mungkin! Emang secinta apaan sih si Chery ama Neil ampe mau berubah segala demi dia! Gue tau kalau Chery kemaren emang ngomong sendiri kalau dia suka sama Neil, tapi gue rasa dia nggak sesuka itu sama Neil.

“Theo!” Au melihat Theo ketika berpapasan di koridor belakang sekolah dekat ruang OSIS. Entah mengapa aku punya firasat kalau Theo ada disini. Aku hebat kan.

Theo sedang berjalan dengan…’Chery fake’? Theo tidak langsung menghampiriku melainkan hanya berjalan pelan kemudian mengecupku. Tapi bukan ciuman yang biasa, sepertinya ciuman yang ini agak dingin dan hambar. Senyum ceriaya yang kusuka itu juga hilang, “Hei.”

Sesaat hening diantara kami bertiga. Sepertinya Theo maupun Chery fake tidak ada yang berniat memulai pembicaraan duluan. Huh, kenapa harus aku yang memecahkan kesunyian ini.

“Ka..kamu udah makan?” AKu bertanya pada Theo

“Belum, nggak laper.”

“Ka…Kalau gitu, minum jus aja yuk.”

“Gue nggak mood.”

Kemarahanku memuncak. “Gue? Sejak kapan lo ngomong sama gue pake ‘gue-elo? KAMU kenapa sih, SAYANG?” Aku memberi penekanan pada kata ‘KAMU’ dan ‘SAYANG’.  “KAMU marah?”

Sebenarnya saat itu air mataku sudah menggenang dan aku juga bergetar saat mengucapkannya. Tapi tolong ya, aku kan udah nggak pernah nangis sejak umur 10 tahun (buset dah, sempet-sempetnya pamer disaat begini. Ckckck).

“Sorry…”

Aku langsung berbalik akan pergi, tapi Theo menahanku, “Rea..”

“Dan sejak kapan lo manggil gue ‘Rea’?” Kemana sih kata ‘sayang’ yang gue suka itu? Senyumnya juga nggak ada. Theo yang biasanya banyak ketawa sekarang wajahnya dataaaarrr banget. “Gue kangen lo bedua yang biasanya.” Aku menunjuk kearah Chery fake dan Theo fake!

Bodo ah! Gue males sama mereka berdua selama mereka masih kayak gitu! Kenapa sih? Apa sinar matahari lagi mengeluarkan sinar radio aktif yang membuat species manusia merubah sifat asli mereka jadi berbanding terbalik (bodoh!)? Sekarang aku nggak tau mau kemana. Mending aku balik ke kelas dan kembali menikmati kesendirian dan semua kegilaan ini.

Tapi ternyata gue nggak bakal sendirian…

“Rea!” Panggil salah satu anggota ‘koor Chery’ waktu ngeliat gue. Abis itu semua anggotanya serempak ngeliat ke gue semua. “Rea!”

“Rea…” Kata Joko, inget Joko kan? Salah satu anggota cowok-cowok berkicau yang Jowo banget. “aku kangen Barbie.”

“Ane juga, ane kangen Barbie yang manja.”

“Iya Id, gue juga sama. Gue juga pengen Barbie yang kemaren.” Aku menatap mata cowok-cowok itu satu persatu.

“I really don’t care how’s Chery looks like or what did she do, but I really miss the real Chery.” Huh, untungnya penggemar Chery ini ada yang ‘lumayan’. Stuart, yang lahir dan gede di UK.

“Me too.”

“Nah kan, lo juga kangen Barbie yang kemaren kan. Makanya, lo cari tau sebenarnya mau si Chery apaan! Lo kan sahabatnya, cewek-cewek kan lebih percaya ama sahabatnya!”

“Lo juga harus ngerubah dia, Re. Cuma lo yang bisa.”

“Ane bayar berapa aja biar anta mau ngembaliin Barbie sayangku.”

“Barbie idola kita harus kembali, pokoknya Harus!”

“AAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHH, STOOOOPPPP!!!!” Sejenak semuanya hening. “Lo pada aja yang urus! Gue punya BANYAK masalah yang harus gue urus!” Theo yang dingin, tidak ramah, tanpa senyum, aneh. Theo yang berubah.

Seseorang yang jangkung, cakep, tinggi, memecah kerumunan itu dan berjalan kearahku sembari berdehem-dehem untuk menyingkirkan kerumunan. Neil! “Semuanya minggir!”

Seketika itu juga para kerumunan itu minggir, tapi tidak menyingkir. Neil memang punya wibawa untuk menyuruh orang-orang mengikuti perintahnya. Tak heran Neil terpilih jadi ketua OSIS. Entah kenapa aku yang tadinya marah banget langsung tenang begitu ngedenger suara Neil, “Rea…”

Tangan Neil yang dingin langsung merangkulku dan mengajakku pergi dari sana. Saat tangan Neil menyentuhku, nafasku yang tadi naik turun kembali stabil. JAntungku juga mengalami hal yang serupa, langsung tenang begitu tangan Neil menyentuh pundakku. DAlam rangkulan Neil aku merasa aman dan nyaman.

Baik aku maupun Neil nggak ngomong apa-apa sampai kita nyampe di tempat tongkrongan kita tecinta,
RUANG OSIS!  “Pasti lo nangis nih bentar lagi, hahaha.”

“Enak aja, gue nggak nangis. Nih!” Aku nujukkin mata aku.

“Dasar sok kuat lo! Hahaha.” Neil kok banyak ketawa akhir-akhir ini.

“Jadi lo juga kena sinar radioaktif sampai ikutan berubah juga, kayak Theo, Chery!”

“Hahahaha, kamu lucu banget sih, Re.”

“Huft!”, aku menghela nafas. “Sudahlah.” Aku menyandarkan kepalaku di Dada Neil. Pluk! Jatuh begitu saja. “Numpang bentar.”

“Tuh kan, apa gue bilang! Bentar lagi juga lo nangis!”

“Sialan lo! Gue pusing tau.”

Baru aja gue baru mau mulai menenangkan, bel masuk malah bunyi. Aku langsung menegakkan tubuh supaya Neil bisa berdiri dan pergi. Tapi ternyata Neil malah tetep duduk dan narik kepala gue supaya bisa senderan di dada dia lagi. “Kita bolos aja ya sekarang.”

“Hah?” Sumpah ini aneh banget. Neil kan anak yang alim! “Emangnya lo mau bolos?”

Neil nggak langsung ngejawab melainkan memainkan tangannya di rambutku. Mengusap-usap dengan pelan dan lembut. “Kenapa juga gue nggak mau.”

Memalukan! Gue malah ketiduran! Arrgh, gue memang payah! Udah ya, ceritanya nyambung ke chapter berikutnya! Sekarang gue bobok dulu…

Zzzzzzzz…………..

——————————————————————————————————————————————

Penulis disini, hehe

Ya ampun, gimana sih Rea!  Malah ketiduran, bukannya bawain cerita. Ntar dhe aku bangunin Rea di chapter berikutnya.

By the way maaf banget ya kalau chapter ini tidak seperti yang pembaca harapkan (berdasarkan polling pembaca tertarik membaca ini karena menurut mereka cerita ini lucu. Tapi aku tidak tau dimana lucunya). Aku tidak bisa membayangkan ada hal lucu di chapter ini karena memang chapter ini chapter yang sedikit serius.

Terimakasih sudah bersedia membaca, aku mohon vote dan komennya ya..hhehe..

Sampai jumpa di chapter berikutnya ^^

10 pemikiran pada “Barbie Girl (Part 2)

  1. gw suka banget sama ni cerita. Lucu, gemass, gokil, or whateverlah… Yang jelas baca cerpenmu bikin ngilangin stress gue. I swear…!hahahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s