SHINee-ing as bright as the SKY (Korea Fan Fiction) – Part 2

Sora

(Sora POV)
       Aku bermimpi… Kenangan itu lagi…

       Aku sedang sendirian di tepi pantai, bernyanyi. Angin ditepi pantai begitu memanjakanku meskipun aku tidak begitu merasakan angin itu pada leherku karena aku SELALU memakai sesuatu untuk menutupi leherku. Kulakukan itu sejak aku kecil (mungkin suatu saat nanti kau akan mengetahui sebabnya). Bagiku hal lain didunia ini tidak penting selain bernyanyi. Sebegitulah cintaku terhadap bernyanyi. Kalau saja aku boleh memilih, aku lebih memilih untuk bernyanyi dibandingkan kuliah. Tapi semua orang lalu akan mengataiku ‘bodoh’ begitu aku mengeluarkan pernyataanku.

       Aku, Aku ini jenius. Aku tidak bohong. IQ-ku 145, aku menamatkan elementary school selama 5 tahun, Junior High School selama 2 tahun, dan High School 2 tahun. Aku menguasai beberapa bahasa asing selain bahasa ibuku sendiri.

       Tapi pernahkah orang-orang bertanya apa mimpiku yang sebenarnya? Tidak! Mereka semua selalu merencanakan kehidupanku. Apa yang mereka harapkan tidak jauh-jauh dari mahasiswa teknik elektro, programer ternama, profesor beruban. Itukah yang kalian pikirkan tentang orang-orang yang ber-IQ tinggi?

       Aku masih terus bernyanyi di tepi pantai itu. Aku menyanyikan apa saja yang terlintas di kepalaku. Kalau saja ada yang bisa membuatku pergi dari kota ini, dari negara ini, atau setidaknya dari panti asuhan itu (aku tinggal di panti asuhan sejak elementary school dan pihak panti tidak pernah membiarkanku untuk diadopsi keluaraga. Kalian tentu sudah bisa menebak sebabnya bukan?)! Pergi kemana tidak ada orang yang  mengenalku dan tidak akan ambil pusing seandainya aku berkata ingin menjadi penyanyi.

       “Hei you!” Seseorang yang dari belakang memanggilku. Siapa itu? Pantai ini seharusnya sepi karena biasanya seperti itu! Tidak ada turis atau bahkan pemerintah yang menyadari keindahan pantai ini sehingga pantai ini tidak diusik orang. Hanya aku saja, orang aneh yang mau menumpang pada mobil orang selama empat jam perjalanan dari tempat tinggalku untuk mencapai pantai ini kemudian kembali setelah dua puluh menit berdiam di pantai karena harus buru-buru pulang ke rumah (aku membolos dari kuliah demi menuju pantai ini.

        Orang asing. Setidaknya aku yakin dia bukan berasal dari negara ini. Wajahnya lain dari orang kebanyakan. Wajahnya lebih mirip denganku. Mata sipit, kulit kuning, dan sepertinya dia sudah cukup tua. Lebih mirip denganku? Oh tentu saja, didalam dongeng yang kudengar bertahun-tahun yang lalu dan hanya samar-samar kuingat, keluargaku memiliki darah Taiwan meskipun sudah meninggalkan Taiwan sejak jaman nenek buyutku. That was my mom said to me.

        “Err, could you speak English?” Orang tua itu menatapku dari atas sampai bawah dan berbicara dalam bahasa Inggris.

        “Yes. What is your mother language?” Aku malah bertanya balik mengenai bahasa yang biasa dia gunakan.

        “Korean.”

       “Mungkin lebih nyaman untukmu jika kita berbicara dalam bahasa Korea.”

        Orang tua tadi malah menatapku heran bercampur takjub, “Kau bisa bahasa Korea?”

        “Jika kau mau aku bisa mengubahnya kembali menjadi Bahasa Inggris. Atau jika kau ingin berbincang-bincang dalam Bahasa Cina atau Jepang? Jujur saja, Bahasa Korea-ku tidak sebaik Bahasa Jepangku. Tapi Aku lebih menyukai bahasa-bahasa di Eropa. Tulisannya tidak serumit bahasa-bahasa Asia.”

       Lagi-lagi orang tua itu memandangku seakan-akan sedang mengeja W.O.W. Ya ya, silahkan berwajah seperti itu, aku sudah biasa ditatap dengan tatapan seperti itu. “Ah, perkenalkan, namaku Lee Soo Man.” Kemudian dia mengaduk-ngaduk sakunya dan mengambil segenggam uang. Benar-benar segenggam dan itu banyak sekali. “Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

       Aku menolak uangnya, “Aku tidak semiskin itu sampai harus menyanyi untuk mendapatkan uang. Aku menyanyi karena aku suka!”

       “Kalau begitu bernyanyilah. Anggap saja aku tidak ada.”

       Untuk pertama kalinya ada orang yang menyuruhku bernyanyi dan bukannya belajar. Timbul sedikit semangat dalam diriku mengingat masih ada orang yang menghargaiku ketika bernyanyi. Aku menarik nafas panjang dan mulai ber-vocalizing. Sedang tidak ada lagu yang ingin kunyanyikan sih.

       Setelah selesai, Mr. Lee memberiku tepuk tangan. “Bagus! Bagus sekali!”

       Aku diam saja meskipun dalam hati aku menjerit kegirangan. Pertama kalinya ada orang yang memuji suaraku.
       “Ah, siapa namamu tadi?”

       “Aku belum menyebutkan namaku. Namaku….” Tiba-tiba aku tidak ingin menyebutkan namaku yang sebenarnya. Kemudian aku memandang langit. “Sora.”

       “So…? Siapa?”

       Tidak, aku tidak menyebutkan namaku barusan. Aku hanya melihat langit dan secara refleks menyebut langit dalam bahasa Jepang yang berarti ‘sora’. Apakah Mr. Lee salah mengira bahwa namaku memang Sora?

       “Ah, ya. Namaku Sora.” Akhirnya jadi terlanjur. Kubilang saja namaku Sora. Aku sudah belajar banyak dari kehidupan. Jangan terlalu mempercayai seseorang apalagi kalau orang tersebut orang asing. Jangan pernah memberitahukan identitasmu bahkan untuk menyebutkan nama aslimu.

       “Baik Sora. Begini, kau pernah mendengar Super Junior atau SHINee?”

       Super Junior? SHINee? “Jujur saja tidak Mr. Lee. Aksesku ke dunia luar dari panti asuhanku tidak banyak.”

       Ya, benar-benar tidak banyak. Mereka tidak pernah berhenti untuk menyuruhku belajar dan mengotak-atik mesin atau komputer tanpa boleh mengakses internet yang menurut mereka banyak hal negatif. Oh, pasti mereka ingin menjauhkanku dari musik. Yang kumaksud dengan mereka disini adalah para pengasuh panti. Teman-temanku di panti juga bisa dibilang tidak ada. Bagi mereka aku terlalu aneh untuk menjadi teman mereka.

       “Panti asuhan? Apa kau yatim piatu?”

       “Ya.”

       “Oh oke, begini sejujurnya di Korea aku adalah pemilik agensi yang banyak mengorbitkan artis-artis. Sayang sekali kau tidak mengetahuinya, padahal super junior dan SHINee adalah boyband kesayangan agensiku. Ini, aku punya beberapa video mereka di laptopku. Kau ingin melihatnya?”

       Aku mengangguk, seiring dengan anggukanku, Mr. Lee mengeluarkan laptopnya dan segera memperlihatkan salah satu video beranggotakan lima orang yang bernyanyi sambil menari. Dance yang begitu hebat.
Nareul mukko gadoon damyeon sarangdo mukkin chae
Miraedo mukkin chae keojil su eopneunde
Ja yurop gae biweo nohgo barabwa
Ojik neoman chae ulgae neoman gadeuk chae ulgae
(If you tie me down and trap me
Then the love is also tied down
The future is also tied down
It can’t grow anymore
Freely empty yourself and look at me
I’ll fill you only, I’ll completly fill you only)
       Aku fokus melihat mereka. “Begitu bersinar..”

       “Apa?”

       Aku tidak mengalihkan pandanganku dari laptop Mr.Lee, “Mereka semua, begitu bersinar.”

       “Hahaha, itulah hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun aku mendidik mereka. Dan inilah hasilnya. Bagaimana? Kau tertarik?”

       Sekarang barulah aku mengalihkan pandangan dari pandangan serius ke pandangan heran tepat ke mata Mr. Lee, “Tertarik? Tertarik apa?”

      “Tertarik seperti mereka. Menyanyi dengan penuh keceriaan. Kau juga akan mendapatkan uang untuk itu. Yah, meskipun kau memang menyanyi untuk kesenanganmu, tetapi kau tetap akan mendapatkan uang untuk kehidupanmu.”

       “Dimana?”

       “Korea tentu saja. Kita bisa memulainya secepatnya. Kau punya paspor dan dokumen untuk berpegian lainnya bukan?”

       Punya. Tentu saja aku punya. Aku pernah mengikuti pertukaran pelajar ke beberapa negara dan mengikuti konferensi internasional, “Ya, ada.”

       “Bagus, kalau begitu kita bisa berangkat secepatnya. Jadi, apa aku perlu berbicara dengan pengurus panti asuhanmu? Oh ya, kau bahkan belum mengatakan apakah kau setuju atau tidak.”

        Mengenai persetujuanku, tentu saja aku setuju. Hanya itu impianku. Tapi jika harus berbicara dengan pengurus panti… Tidak mungkin. Kemungkinan besar mereka akan mengurungku di ruang isolasi untuk beberapa hari. “Tidak, soal pantiku biar aku yang mengurusnya. Tinggal bilang saja apa yang harus kulakukan.”

       Mr.Lee tersenyum puas. “Bagus. Kapan kita sebaiknya berangkat?”

       “Lebih cepat lebih baik.” Aku ingin cepat-cepat meninggalkan negara ini.

       “Baik. Kalau memang begitu keinginanmu besok pagi kutunggu disini jam 10.00. Soal tempat tinggalmu disana tidak usah khawatir. Yang kau perlukan hanya menyiapkan dirimu.”

       Aku bangkit dan segera mengambil tasku, “Baik Mr. Lee besok pagi jam 10.00 disini. Aku harus segera pergi Mr.Lee.”

       “Dimana panti asuhanmu, biar aku antar. Aku menyewa mobil untukku berjalan-jalan disini. Hitung-hitung untuk mengenalmu lebih jauh.”

       “Maaf, tapi aku tidak menginginkannya.”

       Raut wajah Mr. Lee tampak kecewa mendengar jawabanku. Tapi ini lebih baik. Setidaknya semakin sedikit yang dia ketahui akan semakin baik bagiku. Aku bukan tipe orang yang tertutup, sebenarnya aku cukup terbuka pada orang-orang yang aku percaya. Hanya saja tidak ada orang yang aku percaya di dunia ini. Orang-orang yang seharusnya bisa kupercaya sudah pergi meninggalkanku dan tidak akan pernah kembali lagi.

       “Baiklah, sampai ketemu besok. Ingat, jam 10.00. Jika kau tidak datang lupakan saja perjanjian kita.”
**********
Pagi hari, di pantai pukul 9.40
       Aku sudah menunggu selama beberapa jam. Aku sudah berangkat dari panti asuhan tengah malam tadi. Bukannya aku begitu tidak sabar sehingga datang kelewat pagi, tetapi aku harus kabur dari panti tanpa berpamitan. Aku menunggu sampai seluruh penghuni panti terlelap, barulah kemudian aku mengendap-ngendap mengambil pasporku di kamar kepala panti (mereka menahan pasporku). Aku juga mengendap-ngendap menuju ruang arsip untuk mengambil semua dokumen yang berhubungan denganku. Dari mulai surat penerimaan diriku, akte kelahiran, KTP, pokoknya semua hal. Dengan ini kuharap mereka tidak akan pernah mencariku. Aku tahu bahwa panti ini tidak kaya dan mungkin tidak mampu untuk sekedar membuat iklan di TV mengiklankan orang hilang. Jadi kubuat saja seolah-olah aku tidak pernah berada disini.

       Tak lupa juga aku meninggalkan ‘surat selamat tinggal’ yang bunyinya lebih menyerupai ‘surat ancaman’ di meja dekat tempat tidur kepala panti. Isinya jika mereka mencariku, melakukan usaha untuk mencariku, atau mengungkapkan latar belakangku kepada orang lain, maka aku akan membeberkan rahasia panti asuhan itu. Mereka pikir seluruh penghuni panti ini bodoh? Oke, yang lainnya memang bodoh kecuali aku. Sudah sejak lama aku tahu bahwa panti ini nelakukan korupsi besar-besaran. Bukti-buktinya juga sudah aku kumpulkan. Beruntungnya hukum di negara ini cukup keras apalagi yang mencangkup soal korupsi. Aku yakin kepala panti tidak ingin dipenjara berpuluh-puluh tahun dan keluar dari penjara dalam keadaan miskin tanpa harta sepeserpun kecuali baju yang melekat di badannya. Kartu as yang aku miliki.

       Setelah berhasil meninggalkan panti, aku menumpang pada truk chevy milik seorang nelayan yang juga akan menuju ke pantai ini. Seorang kakek tua yang bahkan sama sekali tidak bertanya mengenai tujuanku kemari di pagi buta. Baguslah, setidaknya mempermudah dan aku juga tidak perlu berbohong.

       Yang aku pikirkan adalah, betapa bodohnya aku begitu mempercayai Mr. Lee. Aku bahkan tidak mengenal dan tidak meminta nomor teleponnya. Jika ternyata dia tidak datang, aku tidak bisa kemana-mana bahkan tidak bisa kembali ke panti. Aku sudah terlanjur kabur dari sana. Aku juga tidak bisa pergi kemana-mana. Aku tidak memiliki uang sedikitpun. Ada sih, tapi hanya beberapa lembar yang aku tidak yakin cukup bahkan untuk hidup normal selama sehari.

       Sekali lagi aku melirik kearah jam tanganku. 9.50 masih ada sepuluh menit lagi sebelum waktu perjanjian kita. Aku harap dia benar-benar datang dan dia serius mengatakan ingin membawaku ke Korea dan membebaskanku untuk bernyanyi kapanpun aku mau.

       Pukul 10.05 dari kejauhan aku melihat sosok tua yang sudah tidak asing lagi. Tanpa sadar aku menarik kedua bibirku membentuk senyuman.

       “Sudah lama menunggu?” Mr. Lee membuka pembicaraan pagi ini.

       Aku menggeleng untuk menjawabnya, sedikit berbohong dan mengabaikan fakta kalau aku sudah berjam-jam disini. Terlalu malas berbicara. Yang aku inginkan adalah pergi secepatnya. Memperkecil kemungkinan mereka akan menemukanku.

       “Aku senang pada akhirnya kau memilih untuk ikut. Baiklah. Seperti yang kau inginkan, kita akan langsung berangkat ke bandara. Aku sudah memesan tiket untuk keberangkatan selanjutnya.”

       Aku hanya mengangguk dan menurut saja ketika Mr. Lee menggiringku menuju mobilnya. Mr. Lee mengendarai mobil ini dengan baik meskipun mobil-mobil di negara ini menggunakan setir kanan. Berbeda dengan Korea yang menggunakan setir kiri. Nampaknya Mr. Lee memang sudah biasa berpergian ke beberapa negara karena tampaknya dia sama sekali tidak canggung dengan setir kanan.

       “Aku sudah merancang beberapa program untukmu begitu sampai di Korea. Bagaimana kalau kita mulai dengan operasi plastik. Mungkin kau ingin sedikit mengubah wajahmu?”

       Refleks aku memegang leherku yang sekarang tertutup oleh kain hijau yang serasi dengan baju hitam-hijau yang kupakai saat ini, “TIDAK! TIDAK AKAN ADA SEORANGPUN YANG AKAN MENGOBRAK-ABRIK WAJAHKU! AKU AKAN MATI DENGAN WAJAHKU!”

       Kuakui aku sedikit emosional. Saat Mr. Lee melaju dengan kecepatan 80 km/jam, aku membuka pintu dan berniat melompat dari mobil begitu mendengar operasi plastik. Membiarkan mereka mengubah wajahku sama dengan mengubah diriku yang berarti juga melenyapkan diriku.

       “Relax!” Baiklah kalau itu memang maumu. Tidak perlu ada operasi plastik. Aku bahkan bisa memuatnya pada kontrakmu jika kau mau.”

       Aku sedikit lebih tenang sekarang. Aku mulai memperhatikan jalanan. Batas kota sudah terlewat. Aku sudah benar-benar keluar dari kota yang aku benci itu. Sebentar lagi atau kira-kira setengah jam lagi kita akan sampai di bandara.

       “Kalau begitu kita ganti topik pembicaraan kearah yang lebih menyenangkan. Bagaimana kalau kau menceritakan beberapa hal tentang dirimu.”

       “Namaku Sora dan hanya itu yang perlu kau ketahui.”

       “Oh, sedikit sekali. Umurmu? Sekolahmu? Bahkan jenis kelaminmu saja aku tidak tau. Miyane(maaf) bukannya aku ingin menghinamu, tapi bagiku kau tidak tampak seperti seorang perempuan atau laki-laki. Satu kecerobohan yang kulakukan sebelum merekrutmu, eh.”

       Benarkah? Tidak bisa menduga apakah aku ini perempuan atau laki-laki? Rambutku tidak panjang seperti perempuan juga sama sekali tidak cantik mungkin. Tetapi tubuhku terlalu mungil untuk jadi laki-laki. Mungkin aku memang bisa jadi keduanya. Bisa menjadi laki-laki yang cantik, atau menjadi perempuan yang sedikit garang. Tiba-tiba saja ide gila terlintas di pikiranku.

       “Yang pasti aku salah satu dari keduanya. Yang jelas aku sama sekali bukan bisex. Aku normal. Andaikata aku perempuan, aku pasti menyukai lelaki. Andaikata aku laki-laki, aku pasti menyukai perempuan.”

       “Lalu bagaimana caraku untuk mengorbitkanmu?”

       “Orbitkan saja sebagai keduanya. Penyanyi misterius yang jenis kelaminnya, latar belakangnya, serta umurnya tidak diketahui. Kalau kau memang seorang yang memiliki agensi ternama yang namanya sudah mendunia, tentu mudah bagimu untuk melakukan hal itu bukan?”

       “Jadi kau menantangku? Menantangku untuk mengorbitkanmu sebagai artis…..”

       “Penyanyi.” Potongku. “Aku bukan artis yang juga menjual kehidupan pribadiku dan latar belakangku. Aku hanya ingin orang-orang mendengar nyanyianku.”

       “Oke baik, P.E.N.Y.A.N.Y.I.” sambung Mr. Lee. “Meskipun istilah itu sangat tidak keren tapi baik, aku setuju.”

       Suasana kembali canggung sampai kami tiba di bandara. Aku tidak merasa kesusahan pada saat mengangkat barang-barangku karena barangku hanyalah sebuah koper. Aku tidak memiliki banyak harta yang harus kubawa. Hanya saja Mr. Lee sedikit kerepotan karena barangnya BANYAK SEKALI. Katanya dia baru saja melakukan perjalanan keliling dunia dan tas-tas besar itu berisi oleh-oleh.

       Mr.Lee menemui seseorang di bandara yang menyerahkan tiket pesawat. Kemudian Mr. Lee menyerahkan kunci mobil pada orang tersebut. Saat orang tersebut baru akan pergi, Mr. Lee menahannya kemudian berbicara padaku.

       “Ah, aku benar-benar minta maaf Sora. Tetapi tiketmu belum aku belikan mengingat aku sama sekali tidak memiliki data atau fotocopy tanda pengenalmu. Tidak ada tiket penerbangan ke Korea yang tersisa untuk hari ini.”

       Wajahku menegang. Apakah mungkin semua perjanjian ini batal? Aku tidak bisa kembali ke panti asuhan atau bertahan hidup sendiri, “Jadi?”

       “Begini saja.” Mr.Lee mengeluarkan selembar cek dengan berderet angka yang tercetak disana. Aku bukan orang yang ekspresif dan akan menganga bila melihat banyaknya angka nol yang tertera disana. Tapi seandainya aku adalah orang yang ekspresif, aku betul-betul akan menganga. “Cairkan cek ini kemudian belilah tiket ke Korea untuk penerbangan besok. Untuk malam ini menginaplah di hotel yang paling mahal yang bisa kau temukan di kota ini. Habiskan hari ini untuk berjalan-jalan bersama sopirku. Kau tidak bisa kembali ke pantimu karena kau kabur dari sana bukan?”

       Aku yakin kalau tadi aku melihat Mr. Lee mengedipkan matanya. Bukankah sudah jelas dari tampangku bahwa aku ini anak yang kabur dari panti asuhan. Aku mengangguk mengiyakan.

       “Cek itu tidak sebanding dengan apa yang akan kau dapatkan di Korea. Jadi sebaiknya kau tidak bertindak bodoh dengan uang tersebut. Sejauh ini aku sudah mempercayaimu Sora. Kau mengerti maksudku bukan.”

       Aku memandang Mr.Lee dengan killer look yang aku miliki. Sejauh inipun aku sudah dengan bodohnya mempercayaimu bukan? “Tidak perlu khawatir, aku janji akan tiba di Korea segera.”

       Setelah Mr.Lee menjelaskan apa yang harus kulakukan dan memberikanku sebuah handphone untuk berjaga-jaga (ya, aku bahkan tidak memiliki handphone). Mr. Lee langsung masuk kedalam ruang tunggu meninggalkanku bersama sang sopir yang kemudian mengantarku ke hotel.
**********
       Begitu sampai di Korea, negara yang benar-benar asing buatku. Tapi tidak terlalu asing dan tidak sulit menemukan alamat yang kucari karena bahasa Koreaku yang bisa diandalkan. Siang yang sangat panas menyambutku begitu aku sampai di SM building. Ternyata Mr. Lee tidak berbohong padaku. Agensi memang besar sekali. Aku sudah meriset sedikit tentang SME via internet (yang kuakses di hotel). Termasuk meriset tentang SHINee, Super Junior, dan artis-artis lain asuhan SM entertainment. Aku bahkan sudah kenal melalui foto, hafal nama-namanya, tanggal lahir, dan bahkan rumor-rumor tentang mereka. Kadang otakku yang jenius ini bekerja sangat baik.

         Receptionist SM Building menyambutku ramah saat aku mengatakan siaa diriku dan maksud kedatanganku. Salah seorang dari mereka langsung mengantarkanku pada Mr.Lee. Dan lagi-lagi Mr.Lee tidak berbohong. Dia memang pemilik dari agensi besar ini.

       “I’ve been waiting for you.” Aku hanya tersenyum dingin menanggapi salam dari Mr.Lee.

       Setelah kuperhatikan ruangan Mr.Lee yang cukup luas, aku menyadari bahwa Mr.Lee tidak sendirian. Ada seorang pria disana. “Sora, let me introduce my friend. He is a manajer of SHINee. Remember SHINee right?”

       Mulanya aku heran karena tiba-tiba Mr.Lee menggunakan bahasa Inggris. Tapi kemudian aku melihatnya mengedipkan sebelah matanya. Ah ya, arrassou (aku mengerti). “Yes.”

       Mr.Lee mengatakan sesuatu kepada manajer itu perihal kedatanganku. Mengenai maksud kedatanganku, asal-usulku (yang tidak dia ketahui) dan dimana aku harus tinggal. Semua dikatakan dalam bahasa Korea. Kemudian juga Mr.Lee bilang kalau bahasa Koreaku tidak terlalu bagus. Hahaha.

       Manajer itu kemudian tersenyum padaku dan keluar dari ruangan. Aku menatap Mr.Lee untuk menanyakan nasibku selanjutnya.

       “Just follow him. Feel free to use your time wisely for the next 7 days before you become a trainee here. Arrassou? (Ikuti dia. Gunakan waktumu secara bijak tujuh hari kedepan sebelum kau memulai trainingmu. mengerti?)”

       Aku mengangguk dan mengikuti langkah si manajer. Jadi aku diberi waktu tujuh hari untuk menjelajah Korea? (Bagiku, perkataan ‘gunakan waktumu secara bijak’ berarti ‘gunakan untuk belajar tentang negeri ini’). Pasti banyak yang harus kuketahui oleh orang asing sepertiku. Misalnya tentang SME diluar wikipedia. Itu juga berarti aku diberi kesempatan tujuh hari untuk mengurus tetek bengek lain misalnya tentang dokumen-dokumen dan wajib lapor ke pihak kedutaan tempat aku berasal. Juga mengurus pendidikanku misalnya? (Untung saja dokumen-dokumen kuliahku kubawa).

       Si manajer tidak banyak berbicara padaku hanya saja dia banyak menggerutu dalam bahasa Korea seperti bilang “merepotkan sekali.”, atau sesekali juga bilang “anak aneh.” Ha! Dia masih berpikir aku tidak bisa berbahasa Korea?
**********
       Aku berdiri di sebuah pintu di lantai 12 sebuah apartmen bersama manajer pabo ini. Dia menekan bel kemudian aku melihat sosok cowok tinggi dan tampan yang membukakan pintu ini dari dalam.

       SoraThis is your dorm. You’ll live together with them for awhile until you ready to have your own dorm. You must be tired, feel free to get your rest.”
**********
(bersambung)
Pict: sebenernya itu foto Lee Jun Ki, cuma anggap aja muka Sora mirip ama muka Lee Jun Ki kecuali badannya.. anggap Sora itu adalah Lee Jun Ki dalam versi dada tidak bidang, tidak berjakun, dan tidak tinggi :p)
Baca cerita selengkapnya di http://www.wattpad.com/1361318-shinee-ing-as-bright-as-the-sky-chap-2 disitu ceritanya udah kuupload 18 chapters🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s