FF Request – The Memories (Park Yu RIn + Kim Kibum Super Junior)

Oke, mengenai cerita ini sendiri reques-an dari @queenviee (ini link profilnya http://www.wattpad.com/user/queenviee ).. cerita ini nyambung dikitttttt ama SHINee-ing chap 18 ( http://www.wattpad.com/1522010-shinee-ing-as-bright-as-the-sky-chap-18 ).. perhatiin deh adegan pas Leteuk lagi ngobrol ama Kibum pas nungguin Sora tampil di music bank.. *yah, walaupun dialognya kusalin lagi di cerita ini jadi yang nggak mau baca cerita SHINee dan langsung baca cerita ini juga gapapa*  yang mau lebih kenal dengan karakter yurin di cerita ini, silahkan baca ‘U’re my supergirl’ karangan @queenviee (memper wattpad indonesia) di http://www.wattpad.com/1376348-u%27re-my-supergirl (U’re my supergirl itu masih on going story dan belum tamat.)

disclaimer: cuma minjem nama doank.. karakter dan jalan cerita adalah MILIK SAYA… jadi cerita ini gak nyambung juga ama cerita ‘U’re my supergirl’ (kalaupun nyambung cuma nyambung dikiiiiittt aja) dan @queenviee juga berhak buat cerita versi dia.. *tapi kalau mau buat kayak gini juga gpp kok*🙂

pict: Kim Kibum super junior

———————————————————————————————————————

Kibum POV)

       Apa? Nona penulis membuatku cerita lepas untukku. AKU tokoh utama dan menjadi narator kali ini? Wah, kabar yang membahagiakan bukan? Baiklah reader-ssi, mari kita mulai saja kisahku. Dimulai dari scene saat aku dan beberapa member super junior sedang menonton liveKBS Music Bank dimana Sora akan memulai debut resminya.

Acara hari ini dibuka oleh penampilan 2AM. Habis ini baru ada penampilan dari Sora. Well, selagi menunggu Sora tampil, aku yang duduk diantara Leteuk hyung dan Sungmin hyung melakukan beberapa obrolan. Sampai tiba-tiba terdengar suara Leteuk hyung nyeletuk.

“Ah, aku tidak sabar.” Leteuk hyung? Kau berbicara sendiri?

Berhubung aku kasian kalau Leteuk hyung benar jadi berbicara sendiri, jadi aku menanggapi perkataan Leteuk hyung. Aku baik bukan? “Memangnya ada apa hyung?”

“Orang tuaku tadi menelepon katanya Yeodongsaeng-ku akan kembali ke Korea. Aku tidak tau kapan sih jadi aku benar-benar menantikan hal itu.”

Mwo? Sejak kapan hyung punya adik?”

BLETTAAKKK!!! “Aku punya adik dari dulu! Yeodongsaeng (adik perempuan) yang sangat cantik! Kau pasti akan terpikat padanya! Aku jamin!”

“Siapa namanya hyung?”

“Yurin. Park Yu Rin.”

Park Yu Rin? Nama yang tidak asing sepertinya. Aku jadi teringat pada masa sekolahku di Amerika. Ah, tidak mungkin dia Yu Rin yang sama dengan yang kukenal di sekolah dulu. Lagipula banyak bukan orang Korea yang bernama Yu Rin dan bermarga Park. Kemungkinan kecil sekali kalau aku berharap Park Yu Rin adik Leteuk hyung adalah orang yang sama dengan Park Yu Rin putri masa laluku.

===============================================

(FLASHBACK)

Boys dormitory, Santa Monica High School, California, Amerika Serikat.

Hilang sudah mimpi masa kecilku….

Waktu aku masih sangat kecil tepatnya pada saat aku masih berada di taman kanak-kanak, aku suka sekali melihat anak-anak sekolah di Korea yang menggunakan seragam. Saat itu aku yang masih polospun bermimpi untuk menggunakan seragam dan melalui kehidupan yang indah di High School.

Ternyata mimpiku harus sirna. Pada saat ulang tahunku yang ke-10, orang tuaku memberi kabar kalau kami sekeluarga akan pindah ke kota yang indah di California. Jadilah sejak saat itu aku inggal disini, di Amerika dimana untuk bersekolah kami tidak menggunakan seragam.

“Kibom!” Aku juga tidak suka cara orang Amerika menyebut namaku. Tidak ada yang benar! Namaku KiBUM! “Wajahmu itu terlalu manis! Kau seorang cowok atau cewek sih! Hahahaha, Jerk! Nerd!

Aku sudah terbiasa mendengar olok-olokan itu semenjak di Junior High. Sedikit berbeda dengan keluarga rumpun Cina di Amerika yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di private school, orangtuaku lebih memilih memasukkanku ke public school. Mungkin di satu sekolah ini hanya aku yang merupakan anak dari rumpun Cina! Karena itu aku sering jadi bahan olokan. Apalagi aku juga termasuk dalam kelas akselerasi (kelas dimana kau akan menamatkan high school hanya dalam waktu 2 tahun. Aku bisa masuk kelas ini karena IQ-ku cukup tinggi yakni 138). Semua anak kelas itu sering mendapatkan julukan nerd dari anak-anak lain karena image anak akselerasi yang sering disamaratakan sebagai anak kutu buku.

Di SAMOHI (nama lain dari Santa Monica High), kau tidak hanya bersekolah dari pagi sampai sore. Kau juga akan dimasukkan kedalam asrama sekolah. Ada 5 asrama yakni asrama S, M, O, H, dan I. Asrama A dihapuskan karena pada zaman dahulu kala, sekolah kekurangan dana untuk membuat 6 asrama (source: wikipedia.com santa monica high school). Kau tidak memilih asramamu sendiri, pihak sekolah akan mengacak namamu bersama daftar murid-murid lain. Aku sendiri berada di asrama O.

Teeettttt!!! Teeetttt!!! Astaga, bel sudah berbunyi dan aku masih belum siap! Semoga aku masih belum terlambat.

**********

Kelas Akselerasi 1

Aih! Begitu aku tiba dikelas aku bisa melihat Mr. Dean sudah berdiri didepan kelas. Aku terlambat. Kupikir aku akan diusir keluar tidak boleh masuk kelas. Tapi begitu melihat kedatanganku Mr. Dean malah menyuruhku masuk.

“Kibom!” Namaku KiBUM Mr. Dean! “Baiklah, begini saja. Bagaimana kalau Kibom yang akan mewakili kalian untuk berkenalan lebih dulu dengan Yurin. Yurin!”

Tadi aku tidak begitu memperhatikan, tapi ternyata ada seorang yeoja berkacamata, berambut hitam, dan terlihat kaku disebelah Mr. Dean. Yang membuatku sedikit kaget adalah wajahnya. Wajahnya tidak berwarna pucat atau sangat hitam seperti penduduk asli Amerika. Dia berwajah putih kekuning-kuningan sepertiku. Dan matanya juga sipit seperti mataku. Wajahnya benar-benar wajah rumpun Cina sejati. Selain itu, dia menggunakan liontin perak yang membuatnya terkesan anggun.

“Kibom.” Mr. Dean mendekat padaku. Dengan suara yang sedikit berbisik dia berkata. “Yurin ini pindahan dari Korea. Apa kau bisa membantunya kalau dia butuh bantuan? Kau kan bisa Bahasa Korea. Lagipula aku takut anak ini belum terlalu fasih berbahasa Inggris.”

Yurin sepertinya mendengar bisikan Mr. Dean. Yurin membetulkan kacamatanya dan dengan sangat percaya diri dia berkata, “I can speak English fluently, Sir.

Oh, that’s great. Means you have no problem to communicate with us, right? Then, please Kibom. Say something to our newcomer.”

Ehem. Baiklah, berbicara dengan yeoja membuatku sedikit “Welcome to Samohi, Yurin-ah. My name is Kim Kibum. I’m a Korean too.”

Nice to meet you, Kibum-ah. I’m Park Yurin.”

Srrr.. Sudah beberapa tahun ini aku selalu mendengar orang memanggil namaku dengan palafalan yang salah. Sekarang saat mendengar Yurin mengucapkan namaku dengan tepat.Kibum-ah… Kibum-ah… Masih terngiang saat beberapa detik yang lalu Yurin mengucapkan namaku dengan begitu………. memikau.

“Yurin. Sebaiknya kau duduk dimana ya…” Mr. Dean melihat sekeliling kelas. “Ah, Kibum sebaiknya dia duduk di sebelahmu.”

Jadilah akhirnya aku dan Yurin duduk bersebelahan. Meskipun pelajaran telah dimulai, sesekali aku tetap melirik kearah Yurin berharap dia akan melirikku balik. Tapi ternyata tidak. Yurin asik dengan mejanya sendiri. Dia menyusun alat tulisnya serapi mungkin, membuka bukunya, menyimak dan mencatat dengan penuh perhatian. Sesekali dia mensterilkan tangannya denganhandsanitizer.

Benar-benar tipe anak yang kaku.

**********

(Kibum POV)

“Kibom, makan siang?” Phillip, anak dari Ingris mengajakku makan siang bersama. Meskipun aku cukup dikucilkan di asrama, tetapi di kelas aku cukup dihargai oleh sesama anak kelas akselerasi. Apalagi karena aku pemegang oeringkat teratas pada saat tes masuk.

“Ya, tentu saja.” Aku, Phillip, dan beberapa anak cowok dari kelas akselerasi berjalan bersama menuju kantin. Sesekali kami menemukan anak kelas lain yang memandang remeh kearah kami kemudian meneriaki kami Nerd! Padahal kami tidak sekutu buku itu dan tampang-tampang kami tetap lumayan. “Abaikan mereka!”

“Tentu saja Kibom. Kami selalu mengikuti saranmu untuk mengabaikan mereka. Tapi kalau begini terus kapan kita punya pacar! The girls di kelas kita tidak ada yang menarik. Semuanya tak jauh-jauh dari tipe Yurin.”

Aku mengerti maksud Phllip.Ini sudah beberapa hari sejak Yurin pindah kesini. Tetapi dia sama sekali belum mendapatkan teman. Dia selalu terlihat sibuk belajar, memegang buku di tangannya, makan siang dengan sambil tetap membaca buku. Kira-kira seperti itu jugalah anak-anak cewek di akselerasi. Kita sih namja-nya masih terlihat sedikit lebih santai dibandingkanyeoja-nya.

“Pacar itu tidak penting.” Aku meremas kertas berisi pengumuman audisi grup teater yang kucuri dari mading di dorm. “Aku masih punya mimpi yang harus dikejar.”

“Mimpi menjadi artis? Hahahaha.” Phillip, Arnold, Kille, dan Parish menertawaiku keras-keras. “Untuk apa kau bersekolah di kelas akselerasi tempatnya anak-anak jenius berkumpul jika ingin menjadi artis? Lebih baik kau jadi ilmuwan saja. Kau kan pintar!”

Selama perjalanan ke kantin, Phillip dan kawan-kawan terus saja mengolok-olokku. Mereka juga menjodoh-jodohkan aku dengan si anak baru itu, Yurin. “Aih, kenapa harus dengan Yurin? Tidak adakah yang lebih menarik dari dia? Aku tidak mau dengan anak yang kaku seperti dia.”

Semakin kutolak mereka semakin menjadi-jadi. Aku bahkan sampai didorong-dorong oleh mereka berempat ketika aku terus saja menolak Yurin. Sampai-sampai.

BUAAKKK!!! Aku jatuh dan sepertinya juga aku menjatuhkan seseorang. Oh tidak, itu Yurin! Aku membungkuk berkali-kali untuk minta maaf. “Ah, Miyanhaeyyo Yurin-ah.”

Gwenchana.” Yurin langsung mengambil buku-bukunya yang berserakkan. Bangkit, dan berjalan dengan cepat dan tegap menuju tempat lain sementara aku masih terpana di lantai.

“Tidakah kalian lihat? Mereka bisa saling berkomunikasi dalam bahasa alien! Mereka berdua cocok sekali!” Hentikan mulut besarmu Parish, sebelum kusumpal dengan sepatuku!

Aku melihat sosok Yurin yang menjauh. Sebenarnya dibalik sifatnya yang begitu kaku dan sulit berteman, Yurin cukup cantik untuk ukuran anak kutubuku. Bahkan sebenarnya lebih cantik daripada Jean si ketua cheerleader. Rambut hitamnya, mata tegasnya dibalik bingkai kacamata hitam itu. Ah, apakah Yurin mendengar perkataanku tadi?

**********

Pelajaran olahraga, gymnasium

Gymnasium. Pelajaran olaharaga adalah pelajaran yang spesial. Pelajaran ini tidak diatur berdasarkan kelas, melainkan berdasarkan asrama. Hari ini giliran asrama O yang berolahraga. Baik asrama O putra maupun putri.

“Hari ini kita berenang. Putra menggunakan kolam A dan putri menggunakan kolam B!”

Aku dan Philllip berjalan menuju kolam A. Kami berdua sama-sama kurang menyukai pelajaran olahraga dimana kami akan bergabung dengan anak-anak yang suka mengolok-olok kami. Dan di asrama O haya ada dua orang anak yang berasal dari kelas akselerasi. Hanya aku dan Phillip.

Phillip sudah bersiap dengan celana renangnya, aku tidak mengganti bajuku dan hanya keluar dari daerah kolam renang.

“Kau tidak ikut berenang?”

“Tidak.” Aku mengambil gitarku dari locker. “Seperti biasa, aku akan melihat dari tribun.”

Saking tidak sukanya dengan pelajaran olahraga, aku sama sekali tidak pernah mengikutinya (kecuali pada saat ujiannya). Aku selalu menyimpan gitar di locker. Mengambil gitar kemudian menonton anak-anak yang sedang olahraga melalui tribun.

Suasana di tribun kontras sekali dengan keadaan di lapangan. Disini sepi, orang-orang yang sedang berada dibawah bahkan tidak sadar kalau aku sedang berada disini. Well, itu karena aku duduk di bangku paling atas.

Poster audisi grup teater tertempel tak jauh dari tempatku duduk. Melihat poster itu membuatku kesal. Aku merobek dan meremas poster itu dengan marah. Kau tahu apa yang mereka katakan pada waktu aku mengikuti audisi?

       “Kami tidak menerima anak kelas akselerasi yang selalu tidak punya waktu.” Kemudian beberapa senior mendorongku keluar dari sana. “Lagipula kalau nerd sepertimu ada di grup kami, siapa yang akan menonton penampilan kami? Anak berkacamata tebal dan berkawat gigikah?! Hahaha, lucu sekali. Jawabannya adalah TIDAK! Kau ikut kelompok ilmiah saja.”

Ah, banyak sekali halangan untuk menggapai impianku untuk menjadi seorang aktor. Menyebalkan! Kalau begini, aku hanya memiliki aku dan gitarku. Menyanyi dan bermain gitar are my another hobbies. Tapi aku sama sekali tidak memiliki mimpi tentang ini. Murni hanya hobi.

I have a dream…

        A song to sing…

Lagu westlife, boyband dari Irlandia yang sedang nge-trend itu kubuat dalam versi akustik dan aku juga menyanyikannya langsung.

Tap.. tap.. suara langkah kaki. Siapa itu? Tidak biasanya ada orang di tribun…

Sosok yang memiliki langkah tadi mulai terlihat, dia juga memakai seragam olahraga. Sosok cantik dengan rambut hitam, kulit merona, tapi tanpa kacamata. “Yurin?”

“Iya, aku. Kenapa memangnya?” Dia berbicara dalam Bahasa Korea. Ah, betapa aku merindukan berbicara dengan bahasa ibuku selain pada orang tuaku.

“Tidak..” Tanpa kacamata sosok Yurin terlihat sangat berbeda. Matanya sekarang terlihat lebih berkilau. Aku sedikit pangling tadi. “Kau di asrama O juga?”

“Begitulah.”

“Bagaiaman kehidupanmu di asrama?”

“Buruk.” Yurin melihat kearah kolam renang B yang dipenuhi cewek-cewek asrama O yang sedang asik berenang. “Hanya aku sendiri cewek dari kelas akselerasi disana. Kau tentu tau bagaimana sikap mereka kepada kita.”

Yurin mengalihkan pandangannya ke gitarku. Sepertinya dia sedikit tertarik dengan gitar ini. Dengan hati-hati, aku memberikan gitarku pada Yurin untuk dipegangnya saja. “Ini Ciel.”

“Apa?”

“Ciel.” Aku mengelus gitar yang sudah menemaniku sejak aku berada di Samohi. “Nama gitarku dan sahabat terbaikku.”

So funny. Apa kau sangat menyukai gitar dan bernyanyi?”

“Tidak sebesar rasa sukaku pada dunia acting.” Jadi teringat kejadian menyebalkan saat audisi lagi. Apa yang salah sih dengan anak akselerasi yang begitu mencintai seni peran?

“Apa kau ingin menjadi aktor?”

“Yah, begitulah. Kau tentu tau kan bagaimana reputasi anak akselerasi disini? Aku berharap dengan ada dunia acting aku bisa menunjukkan eksistensiku.” Di Negeri ini, terasing, di sekolah mereka menganggapku bahan olokan. Dimana lagi aku bisa diterima? “Cukup tentang diriku, aku sudah terlalu banyak berbicara. Bagaimana kalau kau sedikit menceritakan dirimu.”

Jadilah jam olahraga kami habiskan dengan mengobrol bersama di tribun. Tapi Yurin tidak banyak berbicara, hanya banyak bertanya. Ternyata dia memang anak yang kaku.

“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Daripada makan sendirian tentu makan bersama lebih menyenangkan bukan?”

Yurin mengangguk setuju. Bagus! Setelah jam pelajaran habis, aku menuju loker untuk mengganti bajuku. Tentu saja setelah semua anak itu keluar dari loker. Karena dengan mereka semua berada di loker sedangkan aku sendiri, aku pasti akan kalah melawan mereka. Bukan berarti aku takut, tapi berpikir logis. Salah satu senior kami di kelas akselerasi pernah di bugilin, difoto, dan fotonya disebarkan waktu dia mengganti baju di loker dan pada saat loker sedang ramai-ramainya. Begitu juga saranku pada Yurin untuk menunggu sampai loker sepi. Sehingga tidak ada yang bisa bertindak macam-macam.

Amerika ini negara yang kejam, kawan.

“HEEEEELLLPPPP!!!!!” Suara teriakan panjang dan putus asa terdengar dari arah kolam renang.

“Astaga! Yurin!” Yurin disana, tidak bisa berenang di tengah-tengah kolam renang. Aku segera melompat dan menolong Yurin. Yurin terlihat shock dan pucat sekali begitu kami sampai di tepi kolam. “Yurin, kau tidak apa-apa?”

Yurin tidak berkata apa-apa. Masih shock. Tau-tau dia sudah memelukku dan menangis. Ah, apa yang harus kulakukan? Jadi aku cuma meletakkan tanganku diatas kepalanya. Tenanglah Yurin, aku ada disini.

***********

Kamar Yurin

Tadi aku khawatir sekali melihat Yurin yang benar-benar pucat. Jadi aku mengantar Yurin ke kamarnya. Setelah itu aku bermaksud pergi tetapi Yurin malah menahanku. “Tinggallah disini sebentar.”

Kamar yang nyaman. Yurin mendapatkan kamar sendiri karena tidak ada yang mau sekamar dengan anak nerd. Berbeda dengan aku yang kamarnya berdua dengan Phillip. Di kamar Yurin banyak sekali foto dirinya yang sedang berpose dalam berbagai gaya, tanpa kacamata. Cukup banyak juga foto-foto pemandangan, bunga, hewan, banyak lagi yang lainnya.

“Apa kau yang memotret ini semua?”

“Iya, aku menyukai fotografi. Tapi tidak sebesar rasa sukaku kalau aku yang ada di depan kamera.”

Aku meraih foto dirinya yang menggunakan gaun berwarna merah, topi jerami, dan sedang tersenyum sambil mencium bunga. “Kau cocok menjadi model.”

“Terimakasih. Tapi aku tidak begitu percaya diri kalau orang lain yang mengambil fotoku.” Yurin mengambil fotonya yang sedang kupegang itu. “Ini oppa-ku (kakak laki-laki) yang memotret.”

“Oppa? Dimana dia sekarang?”

“Korea.”

“Kenapa dia tidak ikut kesini?”

Yurin tersenyum pahit. “Hidup Oppa sudah sempurna di Korea. Umma dan Appa (ayah dan ibu) begitu memanjakan Oppa yang pintar dan berbakat. Rasanya aku selalu menjadi bayangan Oppa. Tapi aku tidak membenci mereka. Aku kesini sendirian untuk menunjukkan pada Umma dan Appa kalau aku juga bisa seperti Appa. Kau lihat ini?”

Yurin menujukkan liontin perak yang selalu digunakannya. “Ini hadiah dari Oppa pada saat ulang tahunku. Bahkan pada saat ulang tahunkupun Umma dan Appa melupakannya. Hanya Oppa yang ingat. Karena itu aku benar-benar menyayangi Oppa.”

Kami berdua duduk ditepi kasur Yurin. Kami saling berhadapan dan aku tanpa sadar mengelus rambutnya yang masih basah karena tercebur di kolam gymnasium. “Apa yang terjadi barusan?”

“Tidak tau.” Yurin menenangkan nafasnya. “Tadi begitu loker sepi, aku mau mengganti baju tapi ternyata bajuku hilang. Disembunyikan pastinya. Setelah itu aku keluar berharap aku akan menemukan bajuku kembali, tetapi nihil. Tau-tau aku sudah didorong oleh seseorang ke kolam.”

“Kejam sekali mereka.”

“Tidak, tidak, lelucon seperti itu sudah banyak terjadi bahkan di Korea bukan? Akunya saja yang phobia terhadap air. Hahaha, tadi pasti memalukan sekali.”

Dari rambutnya, tanganku turun ke pipinya. Pipi yang merona begitu kusentuh. Halus sekali. Dari dekat Yurin memang benar-benar cantik. “Kau harus kuat. Itu belum seberapa. Mereka memang sedikit kejam terhadap anak-anak akselerasi. Apalagi kau juga berbeda dari mereka.”

“Arra…” Sebelum Yurin sempat mengucapkan apa-apa, aku mengunci bibirnya dengan bibirku. Awalnya kupikir dia akan menolakku atau mendorongku untuk menjauh. Tetapi tidak. Dia membalas ciumanku.

Berciuman dengan yeoja. Ini pengalaman pertama bagiku. Entah apa yang mendorongku untuk mencium Yurin. Apakah ini mungkin cinta? Cinta pertamaku? Sepertinya aku sedikit terlambat dalam mengalami cinta pertama.

Yurin berontak, dia terngah-engah. Yurin kehabisan napas, jadi aku menyudahi ciuman ini. Dan… astaga, jantungku berdetak cepat sekali. Kuperhatikan muka Yurin. Merah sekali seperti tomat rebus.

Miyanhae.. Jeongmal miyanhae… (maaf, maaf sekali) Aish, Babo Kibum!”

Yurin, apa kau marah? Kau bahkan tidak menjawabku atau bahkan memberikan respon. Setidaknya tendang aku keluar dari kamarmu kalau kau memang marah. Itu lebih baik daripada diam seperti ini.

“Yurin?”

Saranghae.” (Aku mencintaimu) He, aku tidak salah dengar? Yurin bilang dia mencintaiku?Jinjja (benarkah)?

Aku menatap matanya yang melihatku tajam. “Nado saranghae..”

Semuanya berlangsung menyenangkan. Kami berdua berjanji untuk sama-sama mengerjar impian kami. Aku akan menjadi aktor dan dia menjadi model.

“Kita berdua harus sama-sama berusaha.”

Eung!” (ya; dalam versi imut). Lalu kami berciuman lagi tanda kami sudah saling berjanji.

(FLASHBACK END)

==================================================================

“Kibum-ah!” Sungmin hyung memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mukaku. “Melamun?”

“Tidak hyung, hanya sedang kepikiran tentang hal lain.”

“Oh, jangan melamun terus! Lihat, Sora sudah mau tampil!”

**********

(Yurin POV)

Panggilan terakhir kepada penumpang tujuan Korea, Incheon airpot dengan pesawat Korea airlines dengan nomor penerbangan KA 135 diharapkan segera memasuki pesawat. Terimakasih.”

Penerbangan Jerman-Korea pasti memakan banyak waktu dan melelahkan sekali. Mungkin nanti aku akan lebih banyak tidur di pesawat. Sudah lama sekali rasanya sejak aku pulang ke Korea. Pekerjaanku sebagai model di Jerman memang menyibukkanku. Setelah menamatkan High School di Amerika, aku dikontrak sebagai model di Jerman. Aku sih tidak masalah, toh itu memang mimpiku yang jadi kenyataan bukan.

Mimpi.. Kata itu mengingatkanku pada seseorang dari masa laluku. Seseorang yang pernah sama-sama bermimpi denganku.

===============================================================

(FLASHBACK)

Santa monica high school, California, Amerika Serikat

“Yurin!” Kibum menghampiriku dengan membawakan sekaleng jus. Perkenalkan, dia Kibumnamjachingu-ku (pacar). Kami resmi berpacaran beberapa bulan yang lalu. Meskipun hampir semua anak di Samohi berlaku kasar pada kami, tapi asalkan kami bersama kami selalu bisa menghadapi apapun. “Kau pasti haus, ini.”

Ah, menyegarkan sekali jus buah ini. Apalagi karena dibelikan oleh namjachingu-ku. “Gomawo, jagiya.”

Kibum tersenyum. Aih senyumnya membuatku meleleh. Tangannya mencubit pipiku yang juga sedang tersenyum, “Kau manis sekali, jagi. Akhir-akhir ini kau sering tersenyum ya.”

Itu karena aku bahagia bersamamu, jagi

Semenjak bersama dengan Kibum, aku tidak se-kaku dulu lagi. Aku bisa bercanda, tersenyum, bahkan menangis. Tiap kali aku menangis Kibum pasti selalu siap dengan pundak dan tangannya yang akan menelus-elus kepalaku. Aku juga mendapatkan teman. Yah, meskipun sedikit dan semuanya masih berasal dari kelas akselerasi (anak-anak lain tetap berpikir anak aksel adalahnerd.

“Bagaimana audisinya?”

Hari Minggu kemarin Kibum memang bercerita kalau dia mengikuti audisi open recruitmensebuah teater lokal. Mendadak wajah Kibum terlihat kecewa. “Hh, gagal lagi.”

Aku meletakkan tanganku di punggungnya, “Lain kali pasti ada kesempatan.”

“Tapi aku mendapatkan kabar yang lebih baik.” Kibum mengeluarkan sebuah selebaran. “Kau lihat ini? Audisi gadis sampul. Kau harus ikut Yurin!”

“Tapi aku….”

“Kau sudah berjanji padaku untuk berusaha meraih mimpimu bukan? Ayo Yurin, tunjukkan padaku kalau kau menepati janjimu.”

“Baiklah jagi. Aku ikut. Wish me luck.”

Tiba-tiba Kibum memberikan kecupan kecil dan singkat. “Ciuman keberuntungan dariku. Semoga beruntung!”

**********

Boys dormitory O, Santa Monica High School

Semua pasang amat disini (yang kebanyakan milik namja) melihatku dari atas sampai bawah. Kaget dengan perubahanku? Mungkin. Ah, mungkin mulai saat ini aku harus terbiasa dengan tatapan mata seperti itu.

Aku mengetuk kamar Kibum. Semoga dia sedang berada dikamar. Aku ingin cepat-cepat memberitahunya menganai kabar bahagia ini. Lebih baik langsung kekamarnya saja.

“Ya?” Phillip yang membuka pintu. Sama dengan mata-mata yang daritadi memperhatikanku. Phillip juga melihatku dari atas sampai bawah seakan-akan tidak mengenaliku.  “Maaf, mencari siapa ya?”

“Phillip! Ini aku Yurin!”

“Ha? Yurin?” Ah ya. Padahal tidak banyak perubahan dalam diriku. Aku hanya melepas kacamataku dan menggantinya dengan softlens berwarna bening. Wel, warna rambutku juga berubah menjadi coklat. Kalau masalah rambut ini memang agensiku yang menyuruhku untuk mengecat rambut karena.. ya! Aku lolos audisi itu dan saat ini aku resmi dikontrak sebagai model. “Waw, aku benar-benar tidak percaya kalau kau Yurin.”

“Bisa tolong panggilkan Kibum?”

“Masuklah.”

Kibum sedang membelakangiku dan sedang menghadap mejanya ketika aku masuk. Mungkin dia sedang mengerjakan tugas atau apalah. Ketika kupanggil namanya, dia berbalik. “Kibum..”

Perlahan Kibum memutar kursi putarnya agar badannya tepat menghadapku. Reaksinya sama seperti namja-deul itu. “Yurin? Itu benar-benar kau?”

“Iya Kibum! Aku lolos! Kau benar! Seharusnya aku sudah mencobanya dari dulu.”

“Oh, itu bagus sekali.” Kibum tersenyum. Tapi itu bukan senyum yang bisa membuatku meleleh. Itu senyum yang dipaksakan.

“Kau tidak senang?”

“Tentu saja aku senang, jagi. Hanya saja aku masih kaget dengan perubahanmu.”

“Oh ini.” Aku mengambil seuntai rambutku yang berwarna coklat dan mengelusnya. “Mereka yang menyuruh. Kau tahu, aku bahkan sudah dikontrak.”

Sekarang, tiap kami berjalan berdua semua orang menatap kearah kami. Aku tidak tau kenapa perubahanku begitu menakjubkan bagi mereka. Padahal kan biasa-biasa saja. Namja-deul di Samohi mulai menggodaku. Aku bahkan lolos kedalam tim cheerleader tanpa audisi. Aku juga mulai sibuk dan mulai kurang memperhatikan Kibum. Seharusnya aku tidak melakukan itu.

Aku jadi jarang menghabiskan waktu berdua dengan Kibum sehingga banyak hal dari Kibum yang aku lewatkan. Aku tidak tau kalau dia mendapat banyak tekanan dari para namja yang menggodaku. Mereka menyuruh Kibum untuk mengakhiri hubungannya denganku, tetapi Kibum menolak sehingga dia mendapat tekanan yang lebih berat. Aku tidak tau kalau dia diam-diam mengikuti banyak audisi tanpa dukungan dariku. Aku tidak tau kalau dia berusaha keras untuk menjadi lebih baik dariku agar dia merasa pantas untuk berjalan disampingku.

*********

(Kibum POV)

Super junior dorm..

       Mwo? (Apa?) Wae Umma? (Kenapa, ma?) Oh, Arrasou.. (Aku mengerti) Ne Umma (Baik umma).” Leteuk hyung tampak kecewa setelah menerima telepon yang sepertinya berasal dari umma.

“Ada apa hyung?”

“Yurin.” Ah, lagi-lagi Leteuk hyung menyebut nama itu. “Umma juga tidak tahu kapan dia akan pulang. Ah, padahal ini sudah lama sekali sejak aku bertemu dengannya terakhir kali.”

Beretemu dengannya terakhir kali… Kenanganku tentang Yurin kembali memanggilku untuk kembali ke masa-masa di Samohi.

=========================================================

(FLASHBACK)

Airport

Aku baru saja sampai di bandara New York. Aku baru pulang dari Korea, berlibur sebentar ke kampung halaman. Aku masih harus berurusan dengan kantor imigrasi sebelum bisa keluar dari bandara ini. Aku menunggu antrian sambil mendengarkan musik menggunakan headset.

Kau tahu kenapa aku memutuskan ke Korea sebentar? Aku ingin menenangkan pikiranku. Meskipun dalam hati aku benar-benar merindukannya. Tentu kalian tahu siapa yang kumaksud bukan?

Seiring dengan perubahan fisiknya yang dari hari ke hari makin cantik saja, orang-orang di sekitarnyapun perlahan berubah. Banyak sekali namja di samohi yang menyukainya dan bahkan terang-terangan menggoda Yurin meskipun aku ada di sampingnya dan memeluk pinggangnya. Aku tahu kalau Yurin tidak akan mengalihkan pandangannya pada namja lain, tapi aku tetap saja cemburu.

“Get lost Kibom!” Itu yang mereka katakan. “Kau tentu tidak tahu bagaimana cara memperlakukan wanita bukan? Aku berani bertaruh kau bahkan belum menciumnya sama sekali. Berikan Yurin padaku dan akan kuajari dia bagaimana caranya bersenang-senang.

Apa-apaan mereka! Aku sudah mencium Yurin kok! Tapi kata-kata mereka cukup menusuk hatiku. Mengajari Yurin bersenang-senang? Apakah Yurin memang tidak cukup bahagia denganku?

Lihat dirimu Kibum! Jika dibandingkan dengan Yurin, kau tidak ada apa-apanya dan tidak cukup pantas berdiri disampingnya. Siapa kau? Anak akselerasi yang dikenal sebagai sekumpulan nerd itu bukan? Lihat siapa Yurin! Karirnya menanjak dengan sangat cepat. Sekarang dia sudah cukup terkenal di California. Berbeda dengan model-model lain yang rata-rata tidak punya otak. Yurin termasuk ranking teratas di Samohi. Dan itulah yang membuatnya sempurna.

Tanpa aku sadari, ada seseorang yang memperhatikanku sejak tadi.

Seseorang menyentuh bahuku, “Excuse me.”

Ya?”

“Hi, my name is Sungha.” Orang yang bernama Sungha ini mengajakku berjabat tangan. “What’s yours?”

“Kim Kibum.”

“Korean?”

“Yes.”

“Bagus sekali.” Kali ini orang yang bernama Sungha itu mulai menggunakan Bahasa Korea. “Baiklah, langsung saja. Kibum, pernahkah kau berpikir untuk menjadi artis? Aktor atau penyanyi misalnya.”

Ternyata Sungha-ssi adalah salah satu trainer di agensi artis ternama di Korea yakni SM Entertainment. Sungha-ssi menawariku untuk mengikuti SME Global audition yang diadakan di New York. Siapa yang menduga ternyata aku lolos audisi itu dan diharapkan bisa langsung tinggal di Korea.

Kembali ke Korea? Apa itu berarti aku harus meninggalkan Yurin? Apakah aku akan kembali ke Samohi hanya untuk berpamitan dengannya? Hanya untuk bertemu dengannya untuk terakhir kali sebelum aku terbang ke Korea?

(FLASHBACK END)

=========================================================

**********

(Yurin POV)

       Sebentar lagi pesawat ini mendarat di bandara Incheon Korea. Akhirnya, sebentar lagi aku tiba di negeri ginseng kampung halamanku. Kedatanganku ke Korea kali ini bukan untuk sekedar pulang kampung. Tetapi aku akan tinggal beberapa bulan. Karir modeling-ku yang membawaku kesini. Ada beberapa pihak di Korea yang melakukan kerjasama dengan agensiku.

Korea… Ah, akankah aku bertemu dia disini sejak pertemuan terakhir itu?

===========================================================

(FLASHBACK)

Dormitory O, Santa monica high school, california, Amerika Serikat

“Kibum-ah!” Aku berlari kearah Kibum yang saat itu sedang dikerubuni oleh teman-temannya. Saking terburu-burunya, aku sampai menabraknya. Uuh, hidungku sakit. Kibum yang menyadari hal itu langsung merangkulku dan membawaku pergi darisana.

“Ada apa, Yurin?”

Deg! Kibum memanggilku ‘Yurin’? Kemana kata ‘jagiya’ atau ‘jagi’ yang aku suka itu? Aku menatap Kibum dengan pandangan menyedihkan. “Benar kau akan meninggalkan Amerika dan kembali ke Korea?”

Bibirnya yang awalnya tersenyum sekarang terlihat menekuk. “Ya, itu benar.”

“Kenapa tidak memberitahuku dulu?” Air mataku mulai menetes. Daripada menggunakan tisu atau saputangan, Kibum lebih memilih mengelap air mataku dengan tangannya yang lembut itu. Tangannya yang selalu merangkulku, memeluk pinggangku, mengelus rambutku ketika aku sedang sedih. Akankah aku kehilangan tangan itu?

Miyanhae Yurin. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku tidak mau kau menangis. Makanya aku tidak memberitahu ini padamu.”

Wae? Kenapa tiba-tiba pindah?”

Kibum menarik tubuhku dan memeluknya dibadannya yang hangat. Oh, mungkinkah aku juga akan kehilangan kehangatan ini? “Yurin, meskipun sekarang aku bisa memelukmu, tapi sebenarnya jarak kita sekarang terasa jauh. Sekarang ini aku belum pantas untuk memanggilmujagiya. Aku akan kembali ke Korea untuk berlari mengejarmu sedikit demi sedikit. Kau mengerti maksudku kan, Yurin.”

Air mataku tambah tidak bisa dihentikan. “Lebih baik aku berhenti jadi model dibandingkan melihatmu menjauh dariku. Kau yang membuatku jadi seperti ini Kibum! Aku jadi model, itu semua untukmu. Aku sudah menepati janjiku. Kalau begini, tidak ada gunanya aku menjadi model.”

“Jangan begitu Yurin.” Kibum yang selalu tenang. “Sekarang giliranku yang akan menepati janjiku. Menjadi model itu memang sudah mimpimu. Bukan karena aku. Aku tidak mau suatu hari nanti kau menyesal karena telah melepas karirmu demi aku. Kau harus berjanji untuk tidak bertindak bodoh seperti itu. Arrachi? (Kau mengerti?).”

Aku mengangguk meskipun sebenarnya aku ingin menggeleng seperti anak kecil yang tidak mengerti bahwa toko permen favoritnya sudah tutup.

“Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu, Yurin.”

(FLASHBACK END)

============================================================

Incheon..

Akhirnya tiba juga di Korea. Aku tak menyangka kalau aku akan mendapatkan sambutan yang cukup meriah disini. Lihat mereka yang datang menyambutku di bandara. Sebagian dari mereka membawa poster atau banner berisikan namaku. Lalu mereka berteriak “QUEEN YURIINN!!!” Ya ampun, aku cukup terkenal disini rupanya.

Penjelasan sedikit mengenai nama ‘Queen’. Dari awal aku memulai karir, aku memang menggnakan nama ‘Queen Yurin’ sebagai nama panggungku. Daripada princess aku lebih sukaqueen. Karena terkesan lebih berkuasa, hahaha *alasan bodoh*.

“Umma.. Appa..” Aku jatuh ke pelukan mereka berdua (setelah bersusah payah mencari mereka diantara kerumunan itu). Akhirnya aku buru-buru dilarikan ke mobil dan kami langsung pergi dari bandara setelah itu.

Daripada mengobrol dengan Appa yang sibuk menyetir, lebih baik berbicara dengan Umma. Umma dan Appa sekarang jadi lebih hangat padaku. Mungkin karena diam-diam mereka merindukanku yang lama tak pulang ini. “Umma, aku sangat merindukan Jungsu oppa. Aku ingin menemuinya.”

“Kau bisa menemuinya besok, kalau oppamu tidak sedang ada jadwal manggung. Sekarang jadwal manggungnya sangat padat, Yurin.” Umma merapikan rambutku yang sedikit berantakan.

“Manggung? Oppa punya band?”

“Memangnya kau tak pernah tau tentang oppamu? Dia sangat terkenal di Korea.” Appa menanggapi pertanyaanku.

Kuraeyo? (Benarkah?)”

“Sampai ke internasional juga…”

“Memang band oppa apa?”

“Super junior. Kau pernah mendengarnya? Oppa-mu bahkan menjadi leader di suju.”

Super Junior? What?! Oppa leader super junior? Jinjja? Aku benar-benar tak percaya mendengarnya. Teman-temanku di Jerman banyak yang mengidolakan boyband asal Korea ini. Kata mereka semua member punya wajah yang lumayan dan suara yang merdu. Aku tak menyangka kalau Jungsu oppa adalah leader super junior. Teman-temanku tidak pernah menyebut member super junior yang bernama Jungsu.

“Oh ya, Oppa-mu menggunakan nama panggung. Nama panggungnya adalah Leteuk.”

Hh.. pantas saja aku tak pernah dengar. Pake nama panggung toh. -_-

**********

(Kibum POV)

Super junior dormitory

       Aku sedang asik membaca buku di dorm. Mungkin ini salah satu kebiasaan yang masih kubawa dari sejak high school. Tapi yang kubaca sekarang cuma buku komik. Kekeke, Ini komik Onepiece punya Eunhyuk hyung. Aku jadi penasaran dengan ceritanya karena yang kutahu Eunhyuk hyung dan Taemin SHINee sangat menyukai cerita bajak laut ini.

 Bel pintu dorm berbunyi. Ah, biarkan saja orang lain yang membukakannya. Aku malas beranjak dari tempatku. Lagipula aku kan bukan lagi si maknae (bungsu) yang bisa disuruh-suruh. Ah, kok jadi ngomongin jabatan sih. Aku tidak peduli apa jabatanku yang penting aku tidak mau membuka pintu!

“Aku mencari Leteuk hyung.” Meskipun tidak melihat kearahnya, aku sudah tau kalau itu suara milik Minho SHINee. Untuk apa dia mencari Leteuk hyung? Hyung sedang mandi!

Aku mengambil beberapa komik onepiece Eunhyuk hyung dari meja. Lebih baik aku menyingkir kekamar sebelum dorm ramai dan aku jadi tidak bisa berkonsentrasi membaca komik. “Hyung, aku pinjam ya!”

“Jangan rusak, jangan telipat, hati-hati dengan ludahmu! Jangan ada yang menetes!” Hyung cerewet sekali. Aku sedang berkonsentrasi membaca di kamar saat Minho sedang berbincang sebentar selagi menunggu Leteuk hyung selesai mandi.

Ah, peduli amat dengan mereka. Awalnya aku tidak peduli sampai terdengar suara Leteuk hyung yang berteriak. “YURIIIINNN!!!!!”

Kali ini fokusku pada komik onepiece ini mulai hilang. Aku lebih berkonsentrasi untuk mendengarkan percakapan diluar kamar. Suara Leteuk, suara Minho, suara beberapa orang member suju, dan suara seorang yeoja. Yeoja?

Aku benar-benar penasaran jadi aku keluar dari kamarku. Tanpa sadar aku membuka pintu kamar dengan cukup keras sehingga mereka yang sedang mengobrol kaget dan semuanya melihat kearahku.

“Dia Kibum, Yurin. Dia punya senyuman yang membius yeoja-yeoja di sekitarnya. Dia dulu juga pernah jadi maknae disini.” Kata Leteuk hyung pada yeoja disebelahnya.

Yeoja yang disebelahnya awalnya tidak peduli dan pandangannya masih terfokus pada minuman yang sedang dia minum. “Membius? Sebegitukah?”

Aku melirik kearah yeoja yang tadi dipanggil Leteuk hyung dengan panggilan Yurin. Yurin juga menghentikan kegiatan minumnya dan melihat kearahku.

Pandangan kami bertemu. Aku terkejut dan sepertinya Yurin juga terkejut. Bagaimana tidak, mata itu, mata yang dulu berkacamata dan selalu berbinar ketika berada didekatku. Rambut itu adalah rambut yang sering kubelai ketika dia sedang sedih atau hanya sedang ingin bermanja-manja. Dan tubuhnya, tubuhnya adalah tubuh yang dulu sering kurangkul dan kupeluk ketika kami berjalan berdua.

Dia! Dia Park Yu Rin yang kukenal dulu. Park Yu Rin anak akselerasi di santa monica high school pindahan dari Korea yang memiliki seorang oppa. Apa, jadi ternyata Oppa Yurin benar-benar Leteuk hyung? Dunia ini benar-benar sempit.

“Aaaa.. Kau tampan sekali Kibum-ssi. Sepertinya aku juga terbius dengan senyumanmu.”

Aku tersenyum mendengarnya, “Kau juga cantik Yurin.”

Cantik, bahkan lebih dari sekedar cantik. Kau cantik sekali. Sesekali aku trsenyum padanya dan dia juga membalas senyumanku.

Yurin, apakah ini pertanda dari dewa kalau kita bisa memulai semuanya kembali? Apakah ini pertanda dari dewa kalau tempatku memang seharusnya berada disebelahmu?

**********

(TAMAT)

gomawo buat yang udah baca.. komen dan thumb-nya silahkan *ngarep* *puppy eyes*

6 pemikiran pada “FF Request – The Memories (Park Yu RIn + Kim Kibum Super Junior)

  1. anyeong
    aku reader baru
    ini coment+ff pertama yg aku baca
    lam kenal n_n

    ko endingny cuma saling puji aj?ga clbk-an lg tuuuh *noel-noel bumie oppa*

    • anyyeong🙂 jinjja??? wah, senangnya🙂 salam kenal juga🙂 itu kn cuma before story.. ak ga punya hak buat bikin ending karena storynya itu milik temenku (tuh linknya ada diatas) begitulah🙂 kalau FF lain yang murni buatanku sebisa mungki aku buat endingnya kok🙂 gomawo udah mampir dan ngomen.. senang rasanya🙂

  2. Aq suka ceritanya…..🙂 sayang ya, ceritanya milik org lain. Padahal pasti bagus kalo ada kelanjutannya kibum dan yurin clbk lagi🙂

  3. annyeong aku pembaca baru disini…
    ceritanya bagus, tapi sayang cerita pnya orang lain, padahal aku penasaran banget sama kelanjutannya yang dibuat sama author.. buat donk ceritanya versi author aja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s