[FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 2

Baca sebelumnya disini

——————————————

CHAPTER 2

The Start of Terror is Pure Happiness

 

(Minho POV)

Aku ingin meminta Onew hyung untuk mengantarkan kami ke rumah sakit, tetapi aku tidak dapat menemukannya dimanapun di setiap sudut rumah ini. Dimana dia saat aku membutuhkannya? Kemudian aku mencari Jonghyun hyung dan Key. Mereka pasti tau dimana Onew hyung berada.

“Hyung, dimana Onew hyung?”

Jonghyun hyung tersenyum pahit seakan-akan menyembunyikan sesuatu, “Well, sebenarnya kami mendapat berita kalau Taemin sudah ditemukan saat kau pergi joging tadi pagi. Jadi Onew hyung pergi menemui Taemin lebih dulu.”

Suara Jonghyun hyung semakin pelan, dan semakin lembut seiring dengan tiba di akhir kalimat. MWO?! (APA?!) Kenapa tidak ada yang menghubungiku? Aku sudah pasti akan langsung pulang daritadi. Tidakkah mereka tau kalau akulah yang paling ingin menemui Taemin selama ini?

“KENAPA tidak ada yang memberitahuku? Kalian tinggal menghubungi HP-ku dan aku akan langsung berlari pulang. Kenapa?” Aku menggenggam erat lengan Jonghyun hyung. Aku merasa benar-benar kesal sehingga aku melampiaskannya dengan cara menggenggam lengan atas Jonghyun hyung sekeras mungkin. Meskipun mungkin dia akan merasa kesakitan, aku tidak peduli. Bagaimana bisa mereka menyembunyikannya dariku? Kalau mereka memberitahuku lebih awal, aku bisa menemui Taemin lebih awal juga. KENAPA MEREKA MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU?

“Minho! Kau menyakiti Jonghyun hyung!” Key mencoba menyingkirkan genggamanku dari lengan Jonghyun hyung tapi aku terlalu kuat. Lagi-lagi aku kehilangan kontrol atas kemarahanku.

“CHOI MINHO!” Dengan cepat aku melepas genggamanku dan Jonghyun hyung langsung mengelus bagian yang tadi kugenggam. Aku mencoba menenangkan diriku, tapi tidak ada artinya. Kemarahan ini benar-benar menguasaiku.

“Kami takut kau akan kehilangan kontrol saat melihat Taemin dan membuat keributan. Itulah mengapa kami baru memberitahumu sekarang.” Melihat Taemin aku akan kehilangan kontrol? Bagaimana bisa?! Kemungkinannya aku akan memeluk Taemin seerat mungkin. Apa lagi yang bisa kulakukan memangnya? Aku tidak mengerti.

“Ayo pergi!” Jonghyun hyung mengambil kunci mobil diatas meja dan langsung mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Aku tidak dapat berpikir tentang hal lain sekarang. Saat ini yang aku pikirkan hanya bertemu dengan Taemin dan tidak ada yang bisa menghentikanku.

Di rumah sakit, aku langsung berlari tanpa mempedulikan Key dan Jonghyun hyung. Aku hanya ingin melihat wajah Taemin dengan kedua mataku sendiri. Di Lift, tiba-tiba sesuatu terlintas di pikiranku. Bagaimana jika semua kejadian di dalam mimpiku terjadi? Apa itu berarti terjadi sesuatu yang buruk pada Taemin? Bagaimana jika itu benar? Apa yang harus aku lakukan? Sebaiknya aku cepat-cepat mengenyahkan pikiran itu sebelum aku mulai berpikir tentang hal-hal negatif.

Akhirnya sampai juga di lantai tujuanku. Kalau tadi aku terburu-buru, sekarang kubiarkan Key dan Jonghyun hyung berjalan lebih dulu. Mungkin aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Kami berhenti didepan sebuah ruangan. Di ruangan inikah? Di ruangan inikah dimana Taemin-ku terbaring?

“Minho, ini rumah sakit. Apapun yang terjadi kau harus tenang. Baiklah, aku mengangguk dengan tenang. Tentu saja, aku akan menrima apapun syaratnya untuk dapat melihat Taemin.

“Okay, kau bisa membuka pintunya sekarang.” Meskipun hatiku melonjak ingin cepat-cepat bertemu Taemin, tanganku gemetaran menuju kenop pintu. Saat aku menyentuh kenop pintu yang terasa dingin itu… Ini dia, aku tidak tahu apa yang kutakutkan. Tinggal buka pintunya Minho bodoh! Apapun yang kukatakan pada diriku sendiri, aku tetap tidak memiliki keberanian untuk membuka pintu ini. Akhirnya, aku menarik nafas panjang dan membuka pintu sialan itu.

Onew hyung terlihat duduk di sebelah ranjang dan langsung berdiri begitu kami tiba. Matanya adalah bukti kalau tadi dia menangis. Mataku melihat sekeliling ruangan dan terpaku di satu tempat. Tempat yang menjadi alasanku untuk kemari.

Sosok itu, poninya menutupi sebagian matanya yang tertutup. Banyak sekali guratan-guratan seperti bekas siksaan pada wajahnya yang tampak seperti hantu. Luka-luka di wajah ini, terlihat sangat familiar seperti aku pernah melihatnya di suatu tempat. Aku melangkah dan membawa diriku lebih mendekati sosok itu. Sosok itu jelas banyak kehilangan berat badan. Aku dapat merasakan jantungku yang berdebar lebih cepat melihatnya. Aku melangkah lagi dan mataku mulai basah. Lebam itu, benar-benar familiar. Aku duduk di sebelah ranjangnya, mendekatkan tanganku pada tangannya kemudian menggenggam tangan dingin itu dengan erat dengan kedua tanganku. Tangan itu sekarang kehilangan kehangatannya yang biasa. Kutempelkan tangan dingin itu di wajahku hanya untuk meyakinkan kalau itu masih tangan yang sama dengan yang kugenggam dulu.

“Hyung, apa yang terjadi?” Meskipun aku tidak benar-benar ingin tau apa yang terjadi. Aku takut untuk menghadapi kenyataan, tetapi aku harus tau! Kenapa Taemin terbaring disini tak sadarkan diri.

“Polisi menemukannya di sebuah rumah yang ditinggalkan. Sewaktu mereka menemukan Taemin, tubuhnya sudah dipenuhi luka dan bekas siksaan…” Onew hyung teridam, menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. “Dokter bilang dia sempat terkena demam tinggi dan menderita kekurangan nutrisi.” Onew hyung berhenti sesaat lagi. “Tubuhnya sangat lemah dan saat lemah dia meracau ingin mengakhiri hidupnya. Mungkin saja hidupnya akan benar-benar berakhir jika polisi tidak segera menemukannya.”

Hanya itu penjelasan yang kudapat. Bagaimana dengan luka-luka itu? Bagaimana Taemin bisa mendapatkannya? Meskipun aku memiliki jawaban dalam hati, aku hanya ingin mendengar penjelasan dari orang lain. Aku hanya ingin mendengarnya langsung dengan kedua telingaku.

“Luka-luka itu?” Aku menggigit lidahku berusaha menahan air mata yang terus saja ingin keluar.

“Dia… dia di perkosa dan disiksa.” Sesaat suasana menjadi hening. Aku benar! Lebam dan luka ini, benar-benar luka yang sama dengan yang ada di mimpiku. Aku menangisi Taemin. Ini berarti aku telah menjadi saksi penyiksaan Taemin dengan kedua mataku sendiri dan aku tidak berbuat apa-apa. Aku benci diriku! Kenapa aku tidak berusaha mencarinya? Meskipun Taemin sudah berteriak meminta pertolongan. Apa aku layak untuk mencintainya? Untuk melindunginya?

Kebenaran selalu sulit diterima karena kebenaran itu sendiri. Realita itu lebih kejam. Aku hanya dapat menggenggam tangannya dengan erat dan menciumnnya berkali-kali.

“Polisi menemukan ini… Dia selalu menggengam ini selama perjalanan ke rumah sakit dan dia sama sekali tidak membiarkan seseorang melepasnya. Kurasa benda ini sangat penting untuk kalian berdua. Aku sudah mencuci jejak darah yang ada di cincin ini.” Onew memberikan cincin itu padaku. Itu adalah cincin KAMI. Aku memberikannya pada Taemin pada first anniversary kami. Aku masih ingat saat kubilang agar dia tidak menghilangkannya atau hubungan kami berakhir. Itu hanya lelucon konyol! Tak kusangka kalau dia benar-benar serius menanggapinya. Aku semakin membenci diriku. Setiap kata yang kuucapkan, dia akan mengingatnya dengan hatinya. Setetes lagi air mata jatuh dari mataku. Aku tidak sanggup lagi menahannya.

“Taemin.. Kenapa kau bodoh sekali?” Kubelai rambutnya dengan lembut dan kemudian kuselipkan cincin itu kembali ke jarinya. “Jangan pernah melepasnya lagi.”

Kucium tangannya sekali lagi. Kemudian kucium keningnya. Aku tetap duduk disampingnya, menjaganya. Tanganku bergerak sendiri menuju wajah Taemin dan jari-jariku membelai mengikuti kontur wajah Taemin. Aku tahu kau menderita, Taemin. Sekali lagi aku merasa sesuatu merobek hatiku.

(Author POV)

Member yang lain tak dapat berkata apa-apa karena mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kata apa lagi yang bisa menjelaskan kepedihan mereka? Jonghyun membelai punggung Key dengan lembut. Siapa yang tidak akan sedih setelah mendengar berita tentang Taemin? Hati siapa yang tidak akan tersayat mendengarnya?

Hari berikutnya Minho selalu menjaga Taemin, selalu terlihat duduk disamping ranjang Taemin menggenggam tangan Taemin. Kau bisa bilang kalau Minho cukup egois karena dia ingin menjadi orang pertama yang Taemin lihat saat dia sadar. Tapi kau juga bisa bilang kalau Minho terlalu mencintai Taemin sehingga tidak peduli dengan dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa menghentikan Minho untuk membesuk Taemin. Hari berganti hari, Minho masih disana. Kumis tipisnya mulai terlihat karena dia sama sekali tidak bercukur, terlalu sibuk memperhatikan Taemin. Sudah empat hari, Minho hanya tidur di kursi disamping ranjang Taemin. Dia benar-benar takut kehilangan Taemin lagi, itulah sebabnya dia sama sekali tidak meninggalkan Taemin.

Mata Taemin mulai bergerak dibawah kelopak matanya. Sedikit demi sedikit mata itu terbuka tetapi kemudian menutup kembali, silau oleh cahaya lampu. Ketika dia sudah merasa terbiasa, mata itu perlahan membuka kembali. Taemin merasa lemah, dia mulai menggerakkan jarinya. Kemudian dia merasakan lengan seseorang yang menggenggam tangannya. Diliriknya orang tersebut. Hal pertama yang dilihatnya adalah seseorang yang terlihat lebih kusut daripada sosoknya yang biasa. Tak lain dan tak bukan, dialah Minho. Minho terbangun karena gerakan ringan dari tangan yang digenggamnya.

“Taemin? Taeminnie! Kau sadar?” Minho menangis karena terlalu senang. Akhirnya dia sadar setelah tertidur cukup lama.  Senyum yang cerah terpancar di wajah Minho. Itu adalah senyum tercerah yang Minho miliki selama beberapa bulan ini. Sudah lama senyum seperti itu tidak terpancar dari wajahnya. “Aku pergi sebentar untuk memanggil dokter.”

Minho berlari dengan kecepatan tertinggi yang ia miliki. Saat dokter datang, dia langsung mengecek Taemin. Semua member juga langsung datang begitu mendengar berita Taemin sudah sadar.

“Bagaimana dokter? Apa dia akan baik-baik saja?”

“Sepertinya dia melupakan semua kejadian minggu lalu. Tapi dia tidak menderita kerusakan otak yang serius. Kupikir kejadian itu benar-benar meninggalkan luka yang dalam dihatinya. Itulah kenapa dia menderita selective amnesia.”

Selective amnesia?” Aku belum pernah mendengar hal itu dan tak seorangpun dari member lainnya pernah mendengar istilah itu.

“Ya, salah satu penyakit mental. Ini adalah suatu kondisi dimana pasien secara seletif menghapus ingatan tentang sesuatu yang memang tidak ingin diingatnya. Dia ingat tentang perasaan takut dan sakitnya meskipun dia tidak ingat kenapa. Tetapi sewaktu-waktu mungkin dia bisa mengingatnya kembali.”

Kami semua terdiam. Kami tidak tau apakah ini hal baik atau buruk. Mungkin melupakannya dapat mengurangi luka mental yang diderita Taemin. Tetapi bagaimana kalau suatu hari dia mengingat semuanya? Itu akan lebih melukainya dan kapanpun dia bisa tiba-tiba mengingatnya.

“Terimakasih dokter.” Dokter tersebut pergi dan mereka masuk kedalam ruangan Taemin.

(Minho POV)

“Terimakasih dokter.” Key akhirnya mengakhiri keheningan ini. Kami semua buru-buru masuk kedalam ruangan Taemin. Taemin sedang duduk dan tersenyum lemah dibalik muka pucatnya.

            “Hyung!” Dia memanggil kami dengan semangat. Segera saja aku berdiri di sebelahnya. Aku senang dia baik-baik saja. Senyumnya cukup menenangkanku, tapi aku merasa aneh dengan senyumnya, sesuatu darinya sudah hilang. Mungkin…. ah, aku hanya berpikir terlalu jauh. Mata besar dan jernihnya masih menatapku dengan cara yang sama bukan?

“Minho hyung! Apa kau tidak bercukur? Kalau saja aku sadar lebih lama, mungkin saat aku bangun kau sudah terlihat seperti orang tua!” Khas Taemin sekali. Sengaja dia membuat lelucon agar kami semua tertawa sehingga suasana tidak terlalu canggung. Wajah sedih Onew hyung pun sudah berganti dengan tawa satu miliar dolar-nya. Key dan Jonghyun hyung tak mau kalah menertawaiku.

“Apa Taemin akan tetap suka pada si orang tua itu?” Jonghyun hyung! Kau ini!

“Tidak!” Senyuman kecewa langsung terpahat di wajahku. “Aku MENCINTAI orang tua itu.” Taemin melirik kearahku sambil tersenyum jahil.

Perlahan semuanya kembali normal seperti sedia kala. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa tenang. Beberapa hari kedepannya aku tetap menunggui Taemin di rumah sakit sampai suatu hari dia diperbolehkan keluar. Aku bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan kepulangan Taemin walaupun Taemin baru boleh keluar di siang harinya.

Senyum lebar terkembang di wajah Taemin saat dia melangkahkan kaki ke rumah. Semuanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan setelah hal pahit itu. Ini seperti mimpi, mimpi dimana tidak ada kesakitan dan ketakutan, hanya ada kegembiraan. Terlalu indah seperti ini justru terlihat seperti ada sesuatu yang tidak beres. Setelah mendengar tentang kejadian uang menimpa Taemin, mungkinkah semuanya kembali seperti tidak pernah terjadi apa-apa secepat ini?

Waktunya makan malam. Key sudah masak banyak dan semuanya adalah masakan favorit Taemin. “Taemin, kau harus makan banyak. Aku menyiapkan ini semua khusus untukmu.”

Gomawo (terimakasih) Key Umma! Aku BENAR-BENAR merindukan masakanmu. Masakan rumah sakit semuanya hambar!” Key hanya menunjukkan senyum keibuannya dan mengangguk. Makanan yang sempat kutolak kemarin-kemarin ini langsung terasa sangat-sangat enak begitu Taemin kembali. Rumah ini kembali dipenuhi tawa. Terimakasih Taemin, kau membawa kehidupan di rumah ini kembali seperti semula.

Setelah beberapa jam bercanda dan menonton TV, Taemin bangun dari duduknya. “Aku lelah. Aku ingin tidur duluan.”

Kami semua mengangguk kemudian dia pergi lebih dulu. Mungkin aku juga sebaiknya pergi tidur dan tetap menemaninya. Sudah lama sekali sejak aku memeluknya dalam tidurku. Sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan perasaan hangat saat aku merasakan kepalanya yang menyender di dadaku. Rasanya sangat nyaman dan rileks. Seperti aku menelan pil tidur yang akan membuatku rileks dan mengantuk seketika. Beberapa saat kemudian aku juga bangun, mengucapkan selamat malam pada semua member lain, lalu pergi menuju kamarku. Kupikir Taemin sudah ada di kamarku tetapi ternyata… kosong..

Mungkin dia berada di kamarnya, menulis diary. Aku tersenyum membayangkan apa yang akan dia tulis. Diam-diam aku berjalan ke kamarnya. Pintunya tidak dikunci jadi aku bisa membukanya dengan mudah. Tentu aku menjaga untuk tetap tidak bersuara agar tidak mengagetkan Taemin.

Ternyata Taemin sudah terbaring di ranjangnya. Kedua matanya sudah tertutup. Tangannya memeluk Mr. Teddy boneka beruangnya dengan erat. Wajah yang polos itu… Dia terlihat so cute saat tidur. Aku jadi ingin memeluknya. Tapi mengingat dia sudah tertidur, mungkin sebaiknya aku tidur sendiri malam ini.

Keesokan paginya, aku terbangun saat mencium aroma sedap dari dapur. Ini kan baru jam 6 pagi. Hmm, mungkin Key menyiapkan sarapan lebih awal pagi ini. Aku bangun dari tempat tidurku, merenggangkan lengan dan kakiku dan berjalan dengan malas menuju kamar mandi untuk menggosok gigi. Setelahnya aku berjalan menuju dapur. Betapa kagetnya aku saat melihat bukan Key yang sedang menyiapkan sarapan melainkan… Taemin? Aku tidak tau kalau Taemin bisa memasak.

“Minho hyung! Selamat pagi!” Pagi ini dia menggunakan long sleeves shirt dan celana biasa. Tidakkah dia kedinginan? Kurasa udara pagi ini cukup dingin.

“Selamat pagi.” Di atas meja sudah ada bermacam-macam jenis minuman. Kopi untukku, susu untuk Key, Milo untuk Jonghyun, dan jus buah untuk Onew. Disana juga ada pancakes dengan berbagai rasa dan topping. Kupikir hanya Key yang tau makanan dan minuman favorit para member. Ternyata Taemin juga cukup perhatian. Kucicip sedikit pancakes itu. Rasanya enak. Tidak terlalu manis tetapi juga tidak hambar.

“Hyung, bisakah kau membangunkan hyung yang lain untuk segera sarapan?” Aku mengangguk. Ada yang berbeda dari Taemin hari ini. Apa dia sengaja bangun lebih pagi untu menyiapkan sarapan? Semuanya terlalu indah untuk jadi kenyataan. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja karena aku jarang memperhatikan kelakuan Taemin yang sebenarnya? Kugelengkan kepalaku. Tidak tidak, aku hanya ingin hidup ini berjalan normal. Aku tidak membutuhkan kehidupan seperti didalam drama.

Kami sarapan dengan tenang dan damai. Semuanya terlihat damai. Seperti kataku, terlalu aneh kalau ini semua menjadi kenyataan. Apakah memang aku menginginkan kehidupan drama yang seperti ini? Aku tidak mengharapkan sebuah kehidupan drama lebih jauh tapi hatiku berkata ada sesuatu yang tidak beres dengan Taemin.

Senyumnya… Bukanlah senyumnya yang sebenarnya….

————————————————————-

Baca selanjutnya disini

5 pemikiran pada “[FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 2

  1. Ping balik: [FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 3 « Angel's Blog

  2. Ping balik: [FF Terjemahan] In My Room – chap 1 « Angel's Blog

  3. kejam banget sih yg perk*s* taemin T-T
    ahh gak banget denger dia digituin andweeeeee !!!

    penasaran banget deh, kok taemin bisa ngilang gitu ya ??
    ah, gw jdi pengen ngebayangin deh minho bekumis kyk apa yah ?? haha

    gw menangkap makna tersirat di susunya milo jonghyun….. maksudnya buat nambah tinggi kn ?? LOL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s