[FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 3

Baca sebelumnya disini

——————————————————————————–

CHAPTER 3

Healing from pain

 

Jangan lupa untuk terus mendengarkan lagu SHINee – in my room sambil membaca FF ini!

————————————————————-

(Minho POV)

            Taemin menyentuh piringnya tanpa bernafsu, hanya dua gigit. Setelahnya dia mendorong piringnya kearahku dan lagi-lagi.. senyum palsu itu tergurat di wajahnya. Kau tahu Taemin, senyuman itu lebih menyakitiku.

“Hyung, aku tidak lapar. Bisakah kau habiskan ini?” Aku tidak bisa bilang tidak. Kurasa dia tidak ingin makan lagi. Aku mengangguk pelan.

“Thanks hyung. Aku akan belajar di kamarku.” Dia berjalan pelan kearahku dan mencium pipiku. Sedikit perasaan tidak enak menghampiriku. Pipi Taemin sama sekali tidak merona atau sama sekali tidak terlihat malu-malu. Yang kutahu, dia tidak seperti biasanya yang selalu malu-malu setiap kali ingin memberi perhatian padaku. Kehangatanya.. aku sama sekali tidak bisa merasakannya. Apakah aku terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak? Kulihat sosoknya yang berjalan menjauh menuju kamarnya.

“Hyung, tidakkah kau sadar ada sesuatu yang berbeda dari Taemin?” Kulihat mata-mata itu satu-persatu. Aku tidak bisa menemukan jawabannya dari diriku sendiri, karena itu kuharap mereka dapat memberiku jawabannya.

Ne! (Ya). Aku tidak tahu kalau dia bisa membuat pancake.” Jonghyun hyung melanjutkan kegiatannya mengunyah. Key hanya bisa menatap Jonghyun dengan tatapan membunuh.

YAK! KIM JONGHYUN! Bisakah kau sedikit serius untuk beberapa saat?”

Jonghyun hyung langsung meletakkan alat makannya dan menatap kearah Key tajam. Dia langsung menggenggam erat tangan Key dan tidak membiarkan genggaman itu lepas. “Kapan aku tidak serius? Aku selalu serius saat aku mencintaimu.”

Muka Key langsung memerah terutama saat Jonghyun mencium lengannya. Betapa aku ingin melakukan hal yang sama terhadap Taemin.  Tetapi sekarang… Dia sama sekali tidak bahagia. Taemin, aku tahu itu!

“Ehem!” Semua kembali fokus setelah Onew hyung memecahkan suasana dengan dehemannya. “Mungkin karena dia kehilangan sedikit ingatannya. Dia merasakannya tapi tidak bisa mengingat sebabnya. Bukankah itu bagus? Sudahlah Minho, jangan terlalu dipikirkan.”

Apa Onew hyung benar? Apa memang aku yang terlalu berlebihan dan terlalu khawatir? Aku melanjutkan makanku sambil melihat Key yang sudah mulai mencuci piring-piring kami. Ah, aku makan dengan lambat sekali.

“Hyung, apa kau pikir Taemin akan baik-baik saja?”

Ne (ya). Mungkin membuat sarapan adalah caranya untuk berterimakasih.” Aku terdiam. Mungkin Key benar, ini adalah cara Taemin untuk berterimakasih.

BUAAAGGHHH!!! GABRUKKK!!! Sesuatu yang berat terdengar seperti terjatuh di lantai. Ternyata hanya Onew hyung. Cih, dia itu selalu terjatuh! Melihat Onew hyung, Key seperti mendapat ide.

“Minho, bagaimana kalau kau bermain bola bersama Onew hyung? Setidaknya kau bisa mengenyahkan pikiran-pikiranmu itu untuk sementara.” Senyuman tulus terkembang di muka Onew hyung yang innocent. Sepertinya dia juga setuju dengan usul Key.

“Membiarkan dia bermain bola dengan sangtae-nya itu?” Kami semua tertawa. Bagaimana kami tidak tertawa jika ada Onew’s sangtae (Onew’s condition). Aku membantunya berdiri.

Gomawo (terimakasih) Minho. Ayo kita main olahraga favoritmu!” Kami berdua bergegas mengganti baju dan segera keluar.

“Aku akan menjaga Taemin. Tak usah khawatir.” Gomawo Key.

Satu jam kemudian

Fuiihh, capeknya! Keringat membasahi sekujur tubuhku. Meskipun capek, aku merasa jauh lebih baik. Kurasa aku akan kembali normal setelah mandi. Langsung saja aku menuju kamar mandi yang terletak didekat mesin cuci. Dan.. Eh? Taemin? Taemin sedang mencuci? Kukucek mataku memastikan aku tidak salah lihat. Tapi itu benar-benar Taemin!

Kurasa Taemin sudah tumbuh semakin dewasa sekarang. Di satu sisi aku tidak suka melihat perubahan ini. Tapi melihat dia yang semakin dewasa, aku ingin memeluknya dan berkata kalau dia sudah melakukan semua hal dengan baik. Meskipun begitu, dia tidak perlu menjadi dewasa karena ada aku yang akan selalu menjaganya.

Aku mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Wangi shampoo yang biasa dia pakai tercium dari rambutnya yang halus. Aku tidak melihat wajahnya jadi kupikir dia tersenyum. Tetapi tiba-tiba sesuatu yang basah menetes diatas lenganku dan dia langsung buru-buru melepas pelukanku. Taemin?? Di… Dia menangis? Meskipun dia buru-buru mengusap air matanya tapi aku tahu kalau dia menangis!

“Taemin?” Kupanggil namanya. Dia berbalik dengan wajah yang menunduk. Poni di rambut digunakannya untuk menutup matanya yang dipenuhi air mata. Sejenak hening, dia membuang muka menolak melihatku. Kau tahu betapa hal itu melukaiku?

“Hyung! Kau sangat bau! Ayo mandi!” Dia memencet hidungnya dengan jempol dan jari telunjuknya. Dia berusaha terlihat enerjik dan ceria. Tapi wajahnya itu seperti sebuah buku yang terbuka. Tadi dia menangis, aku tahu itu! Cepat-cepat dia mendorongku menuju kamar mandi dan langsung menutup pintunya.

(Author POV)

Taemin membelakangi tubuhnya dari pintu yang baru saja ditutupnya dan meyandarkan tubuhnya disana. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Dia merasakan perasaan yang sama seperti yang dulu dia alami. Terlalu banyak rasa sakit, terlalu mengerikan. Dia tidak bisa begitu saja melupakan apa yang di alaminya akhir-akhir ini. Dia tidak bisa melupakan apa yang telah dilakukan pria-pria itu terhadapnya. Dia tidak pernah melupakan apapun, dia ingat setiap detailnya bagaimana dia disiksa, bagaimana dia menangis putus asa meminta pertolongan, bagaimana dia diperkosa, dan bagaimana dia mencoba membunuh dirinya sendiri.

Semuanya hanya acting dia berpura-pura telah melupakan semuanya. Dia berpura-pura baik-baik saja sehingga hyung-hyungnya tidak akan khawatir. Tapi pelukan Minho barusan membangkitkan memori saat dia disentuh begitu kasar. Begitu kulit Minho menyentuh kulitnya, semuanya, siksaan itu, sayatan-sayatan tubuhnya itu terasa seperti baru terjadi kemarin.

Minho ada dibalik pintu itu. Kedua tangannya menempel di pintu itu. Jika saja pintu itu tidak ada, tangan Minho pasti sudah berada di pundak Taemin. Minho tidak berani membuka pintu itu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika dia berhadapan dengan Taemin. Meskipun dia mencoba menenangkan Taemin, Taemin pasti akan berusaha terlihat kuat dan berkata kalau dia baik-baik saja meskipun dia sama sekali tidak baik. Mungkin membiarkan Taemin menangis adalah jalan terbaik. Setidaknya dia bisa melepaskan sedikit beban yang selalu disembunyikannya. Meski sebentar saja, dia bisa berhenti ber-acting.

Sejak saat itu Minho memutuskan untuk mengamati Taemin dari jauh. Minho tidak mengatakan apapun pada member lain tentang air mata Taemin waktu itu karena dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada mereka. Hari-hari selanjutnya Taemin hanya menyendiri didalam kamarnya dan hanya akan keluar ketika ada hyung-nya yang mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka, Taemin mulai ber-acting lagi.

**********

(Minho POV)

“Tidak! Tidak!” Tangan Taemin melambai-lambai di udara seakan-akan dia sedang mendorong sesuatu yang tidak terlihat. Tiba-tiba dia sadar dan langsung duduk di ranjangnya. Dia memeluk Mr. Bear (Teddy bear miliknya) dengan erat dan menangis lagi. Dia terlihat kacau, benar-benar terluka. Tetapi kenapa dia tidak berkata jujur? Kenapa dia berbohong?

Menyimpannya dalam hati hanya akan membuatnya semakin kacau. Aku berdiri disini setiap malam. Rasanya sudah seperti sebuah siklus. Dia akan bangun dari mimpi buruknya, kemudian menangis sampai lelah hingga akhirnya tertidur kembali. Setelah tertidur, dia akan kembali bangun karena mimpi buruk yang sama dan menangis lagi dan tertidur lagi. Begitu seterusnya sampai pagi menjelang. Aku melihat semua itu dengan kedua mataku. Bagaimana wajahnya basah oleh air mata dan kering begitu dia tertidur kemudian basah lagi saat dia terbangun lagi.

Seperti siklus yang tidak akan pernah berakhir. Merasa terluka lagi dan lagi. Tersiksa setiap malam. Bagaimana bisa dia hidup dengan perasaan tersiksa seerti itu? Dengan semua mimpi buruk itu?

Manusia normal pasti sudah gila kalau menjadi Taemin sekarang. Tapi dia… dia bertahan dengan itu semua. Aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Aku benar-benar ingin berlari kedalam ruangan ini dan memeluknya. Tapi aku takut pelukanku hanya akan mengingatkannya pada pria-pria yang pernah memeluknya dengan kasar. Kukatupkan kedua tanganku kemudian kugigit bibir bawahku.

Setiap malam aku berdiri didepan pintu kamar Taemin. Aku tak tahu apa yang kutunggu. Mungkin aku hanya ingin melihatnya selamat dari mimpi buruknya. Aku hanya ingin berada dekat dengannya di malam yang dingin meskipun tidak bisa memeluknya.

Hari ini adalah ulang tahun Onew hyung. Key bermaksud mentraktir semua member ke bioskop untuk sebuah perayaan sederhana. Mereka ingin menonton ‘new moon’. Kupikir Taemin terlihat cukup tertarik ketika kami terakhir ke bioskop untuk menonton ‘twilight’. Dia melompat-lompat semangat begitu sampai dirumah hanya karena dia menyukai ceritanya.

Gwenchana, hyung (tidak apa-apa, hyung). Aku bisa menunggu DVD-nya keluar. Lagipula aku harus belajar.” Key tampak yang paling terkejut dengan jawaban Taemin. Padahal kami tahu kalau dia pernah berkata tidak sabar ingin menonton kelanjutan twilight.

“Kau yakin?” Kali ini Onew hyung yang bertanya. Mungkin Taemin tidak akan menolak jika si pria yang berulang tahun yang memintanya.

“Eung! (Ya). Gwenchana, Have fun there!” Lagi-lagi dia tersenyum aneh. Apa Key dan Jonghyun akan langsung menerima hal ini?

Akhirnya aku ikut saja dengan mereka ke bioskop. Saat aku di lift, kakiku tidak bisa bergerak maju seperti kakiku sendiri yang ingin menahanku Seharusnya aku tidak disini! Seharusnya aku berada disamping Taemin!

“Hyung, kupikir aku tidak akan ikut dengan kalian. Taemin bertingkah aneh sejak dia pulang. Aku sedikit khawatir.”

Onew hyung sepertinya paham maksudku. “Arrasou (aku mengerti). Kau tidak perlu ikut. Hanya pastikan kalian berdua baik-baik saja. Ketika kami pulang, kuharap aku bisa melihat kalian berdua tersenyum bahagia.”

Hyung, kau benar-benar pengertian. Segera aku pulang kerumah dan sesampainya di rumah aku masuk diam-diam. Kubuka pintu rumah dan menutupnya kembali dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Taemin, dia tidak berada di ruang keluarga.. Hanya ada satu tempat dimana dia mungkin berada.

Kutempuh langkah menuju kamar Taemin. Pintunya tidak terkunci. Kurasa kau masih berpikir kalau di rumah ini tidak ada orang bukan? Kubuka pintunya dan aku melihatmu di sudut ruangan… ada sebuah pisau di tanganmu.

Taemin?! Apa itu! Kau menyakiti dirimu sendiri! Kau dengan sengaja menggoreskan pisau itu ke kulitmu! Kau melukai pergelangan tanganmu!

Aku bisa mendengar kau bergumam. “Satu goresan dan itu akan meringankan bebanku…”

Aku langsung berlari untuk mencegahmu menyakiti dirimu sendiri lebih jauh lagi. Pisau itu terambil olehku. Tapi kau tak membiarkannya dan langsung berusaha mengambil pisau itu kembali. Kita mulai gerakan dorong sana dan memukul, menubruk. Chaos. Momen berikutnya aku hanya merasakan pisau itu menggores lenganku.

——————————————————–

Even if I throw it away

Again and again

I want to call you

And hug the crying you in my arms

And keep you right here

——————————————————–

Air mata mengalir turun di wajahmu yang lesu. Lebih menyakitkan melihat wajahmu yang seperti itu. Kupeluk dirimu erat. Seharusnya begini, seharusnya aku tidak melepasmu. Aku tahu apa yang terjadi padamu. Darah mulai mengalir ke pergelangan tanganku. Aku sama sekali tidak merasakan sakit karena itu. Rasa sakit itu hanya datang dari hatiku. Akhirnya aku sanggup menghadapimu. Aku tidak perlu lagi hanya melihatmu tersakiti dari jauh.

Jeongmal Miyanhae (Aku benar-benar minta maaf).” Gwenchana Taemin. Aku tau kau tidak bermaksud menyakitiku. Aku mengerti… Aku tahu.. Kau adalah boneka yang rapuh…

Gwenchana.. gwehchana (It’s okay). Aku tahu kay tak bermaksud menyakitiku. Kuusap punggungnya dengan lembut mencoba menghilagkan rasa bersalahnya. Tetapi saat aku membelainya, dia malah semakin menangis. Kugenggam wajahnya dengan kedua tanganku sehingga matanya bisa langsung berhadapan dengan mataku. Kuusap air matanya tetapi air mata itu tetap mengalir dan terus mengalir. Kali ini dia yang mengambil lenganku. Taemin, mungkin kau melihat ada darah disana. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan luka hatiku. Apakah dia tahu? Tetapi aku juga bisa merasakan dengan jelas luka lebih dalam yang diderita Taemin.

“Aku akan mengambil kotak P3K.” Aku mengangguk dan membiarkannya pergi dan melihat sosokmu dari belakang. Aku tidak dan tidak akan pernah melepasmu Taemin. Karena sekali aku kehilangan dia , aku tidak mau kehilanganmu sekali lagi. Apakah aku terlalu egois?

Sosoknya kembali dengan kotak P3K di tangannya. Dia duduk disebelahku, mengambil tanganku dan memperhatikan luka yang ada disana. Aku mengamati mukanya dimana tergambar dengan jelas ekspresi kekhawatiran di wajahnya. Dia mengambil cariran merah dan merawat lukaku dengan cairan merah tersebut. Dia juga membalut lukaku dengan rapi. Setidaknya bukan luka yang dalam, tidak sampai memutus urat nadiku.

“Taemin…” Aku memanggilnya. “Jangan pernah lagi menyakiti dirimu sendiri.”

Lagi-lagi mata Taemin penuh dengan air mata ketika aku selesai berbicara. Taemin, kenapa kau harus berpura-pura tegar? Kalau kau terluka, menangislah. Menyimpan semuanya didalam dirimu sama sekali tidak bisa menolongmu. Pada akhirnya kau hanya menyakiti dirimu sendiri lagi dan lagi.

“Menangislah, Taemin.” Dia memelukku dengan erat dan membenamkan wajahnya di dadaku. Akhirnya, dia membiarkan dirinya menangis. Apapun yang terjadi aku hanya ingin kau tahu kalau aku akan selalu berada disisimu. “Hyung, maaf karena aku telah berbohong. Aku hanya tidak ingin kalian mengkhawatirkan aku.”

“Kau lebih membuatku khawatir dengan berpura-pura seperti itu.” Dia menunduk. Aku tidak bermaksud memojokkannya. Aku hanya.. hanya.. Aku… Aish! “Janji padaku kau akan memberitahuku semua yang kau rasakah. Jangan menyimpannya untuk dirimu sendiri.” Dia mengangguk dan kami berdua tersenyum. Dan itu… itu senyum yang kurindukan! Senyuman yang tulus dan hangat.

Kurasa ulang tahun Onew hyung memang membawa keberuntungan bagi kami. Aku tersenyum, hahaha, pikiranku konyol lagi. Hyung bertanya tentang lukaku. Aku bilang aku tidak sengaja terluka saat memotong buah. Tentu saja mereka tidak sepenuhnya percaya tapi mereka tidak bertanya lebih jauh.

Taemin selalu memperlihatkan pergelangan tangannya padaku. Membiarkanku mengecek kalau-kalau dia menyakiti dirinya sendiri lagi. Tapi tidak ada luka baru disana dan luka-luka yang dulu pernah dibuatnya pelan-pelan mulai hilang. Semakin hari mood Taemin semakin membaik. Tetapi mimpi buruknya tidak pernah berakhir. Mimpi itu seperti luka yang tidak dapat kusembuhkan. Luka itu sudah terpahat dalam sekali.

Suatu hari dia bertanya padaku. Mungkinkah air mata akan kering suatu hari? Aku tidak tahu jawabannya tapi kurasa air mata tidak akan pernah kering sebanyak apapun kita menangis. Terkadang dia juga menolak sentuhanku. Kadang, jika sentuhanku membuatnya teringat akan ‘sentuhan’ yang pernah menyakitinya. Aku paham. Tangisan putus asanya itu memperlihatkan semuanya. Hanya tinggal soal waktu sebelum dia kembali sepenuhnya. Mungkin aku harus membiarkannya sendiri untuk sementara waktu.

Temanku memintaku membantunya di toko mainan miliknya. Karena sebentar lagi malam natal, dia cukup kerepotan melayani pembeli yang ingin membeli hadiah untuk anak-anaknya. Karena dia sudah berjanji dan kondisi Taemin cukup stabil, kurasa meninggalkannya sendirian untuk sementara waktu bukanlah ide yang buruk.

“Taemin-ah.” Aku menatapnya. Dia menggunakan piyama bergambar hamtaro dan berbaring nyaman di ranjangnya. Aku memang selalu menghabiskan malamku di kamar Taemin. Aku hanya ingin ada dan menenangkannya saat mimpi buruk iru datang lagi. Kondisinya benar-benar jauh lebih baik. Frekuensinya terbangun tengah malam karena mimpi buruk itu terus berkurang dan berkurang. Aku sedikit merasa tenang dan kuharap dia bisa melupakan semuanya sebentar lagi. Aku hanya berharap dia akan baik-baik saja.

“Aku akan pergi bekerja besok. Kau tidak apa-apa sendirian di rumah besok?” Jari-jariku menyusuri rambutnya. Rambutnya yang begitu lembut.

“Tak masalah. Aku selalu membawa cintamu bersamaku.” Dia tersenyum manis dan aku membalas senyumannya itu.

——————————————————

Translated and edited by: ANGELAFT RACTA

Baca lanjutannya disini

4 pemikiran pada “[FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 3

  1. Ping balik: [FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 4 (END) « Angel's Blog

  2. Ping balik: [FF TERJEMAHAN] In My Room – chap 2 « Angel's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s